Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sajak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Oktober 2014

Terpisah Jauh

Setahun lebih telah berlalu, sejak kuketikkan segenap kata-kata itu, tentang puji sanjung pada orang di masa lalu. Setahun setengah tidaklah mudah, serba berliku, penuh dengan teka teki waktu, penuh dengan tawa sumringah, atau kecewa tak terluah, bahkan tangisan tanpa suara. Setahun setengah tidaklah mudah, sampai engkau hadir melengkapi kebahagiaan ini. Ya, setahun setengah yang tak terasa. Kini kita terpisah pada jarak 11 ribu kilometer, oleh samudera dan daratan yang lebih besar dari diri kita tentunya. 

-----------------

Tiga minggu sudah menjalani hidup di benua berbeda, dengan budaya yang tak sama, cuaca yang lebih dingin terasa, makanan yang tanpa rasa.
Kau lihat dedaunan menguning itu berguguran dihembus angin, rintik hujan walau kecil mulai ramai bak menari-nari
Lihat juga langkah kaki orang-orang yang terburu seperti terkejar atau mengejar sesuatu
pakaian yang mulai tertutup dan berbahan tebal
pertanda, musim gugur telah tiba, musim dingin akan segera menjelang
-----------

Aku masiih bertanya-tanya, tentang rubah yang kerap singgah
tentang serigala yang nyaring melolong
atau tentang anjing yang masih mengais-ngais kotoran di halaman orang

aku juga sering dibuat terheran, oleh kura-kura yang senantiasa menyembunyikan kepala
atau tentang lintah yang senantiasa haus darah

mungkin pandanganku nanar sudah
pendengaranku mulai samar
mulutku pun terasa kelu
menyeret kaki yang semakin berat
mengikis setiap jengkal karat semangat


Enschede, 7 Oktober 2014
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 09 Oktober 2013

Setengah Kalah

Kita bertarung dengan waktu di celah dinding zaman

Kekalahan telah menunggu didepan


Pada rahim yang lelah


Pada jiwa yang gundah


Pada buku-buku lusuh


Pada jiwa yang tak kokoh


Pada diri yang setengah sadar



Maka, jangan sesaki ruang ini dengan tangisan


Selipkan sebilah harapan


Hanyutkan mimpi2 itu ke muara


Biar laut menyambutnya dengan tataran



Dan semoga kita ingat lekat


Keyakinan itu ada di depan mata


Keyakinan itu akan senantiasa di sana


Sampai kita merengkuhnya




Sukabumi, Sept 2013







»»  Baca Selengkapnya...

Jumat, 19 April 2013

Kontemplasi II

Jalanan tampak lengang, hilir mudik kendaraan berjumlah ribuan
Aku sedang melakukan perjalanan
Tak tampak wajahmu memandu kini
Semuanya tampak semu, berukirkan wajah seseorang dari negeri antah berantah
Semuanya hanya bisu menyaksikan perjalananku kali ini menjemput rindu

Belantara beton satu persatu mulai tertinggal jauh di belakang
Ribuan pohon menyambut ramah di jantung kota itu
Berjajar ratusan armada umum menjajakan jasa

Jalanan yang sempat kulalui dulu dengan seribu asa
Kini hanya menyisakan kepingan cerita
Jembatan penyebarangan tempat kita menyebrang dulu
Kini diam seolah tanpa maya

Setidaknya kita telah mencoba
Toh waktu juga yang selalu menjadi penyembuh segala
Akhirnya keterasingan juga yang akan menjawab semuanya.
»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 09 April 2013

Kontemplasi


Sudahkah kita berkemas menapaki masa kini
Meninggalkan masa lalu yang suram
Menjauh dari masa dulu yang kelam
Merindukan masa lampau yang temaram; meneduhkan

Atau masihkah terpancang rasa enggan
Rindu  dendam yang bertalu-talu
Tentang memori masa dulu
Terselip pada sebilah kenangan

Sudahkah kau siapkan bekal sepanjang jalan nanti
Lobang-lobang menganga siap diisi
Benak-benak paham siap diuji
Jeruji-jeruji mimpi kita gergaji?!
»»  Baca Selengkapnya...

Jumat, 11 Januari 2013

Bertemu


Hari itupun kemudian tiba
Kita dipertemukan dalam rinai hujan
Gemericik tetesan air rapat berjumlah milyaran
Di sudut kota yang tak kukenal

Aku terdiam dalam pesona
Membisu tujuh puluh kata
Menatap semu wajah berbalur rindu

Kali ini bukan pualam
bukan juga batu indah berlian
cukup batu berharga yang belum kukenal

Lantas, kau sajikan semangkuk sup hangat
Sepiring nasi, segelas kopi panas mengepul
Dan setangkup hati berbinar

Aku berujar di hati
Cukup sudah semua ini
Lalu, hendak kemana kita kini?

Biduk telah kurakit
Sampan pun telah kulabuhkan berdampingan
Nakhoda telah disiapkan
ABK menunggu waktu turut serta

Kita berlayar sepanjang usia
Melewati segenap ombak dan gelombang
Semoga layar tak pernah raib
jika pun robek semoga bisa kujahit
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 02 Januari 2013

Semoga Kaupun Paham


Sodorkan padaku setangkup mimpi
Sejumput sepi
Dan sepotong hati

Ku ramu menjadi sebilah sajak
Berakar pada sekeping puisi
Tercetak pada prosa yang minim makna

Jika kaupun sudi
Hantarkan semangkuk sedih
beserta sepiring duka
biar ku padu-padankan dalam sebait karya nan sederhana

Namun tiada mampu kucipta seloka yang membahana
Atau gurindam yang memendam
Semoga kau pun paham
Semoga tiada dendam 
tiada muram
»»  Baca Selengkapnya...

Kamis, 29 November 2012

Selamat Jalan

Di persimpangan jalan itu, kita bertemu, melabur mimpi dalam denting hari
Di persimpangan jalan itu, bertandang suka, berkunjung duka
Di persimpangan jalan itu, aku, kau, dan mereka belajar untuk paham

Berjalan mengitari roda kehidupan
Mendaki undak tangga kesulitan
Menuruni lembah-lembah kemudahan

Di persimpangan jalan itu, kita akhirnya harus saling melambaikan tangan
Berjalan menyusuri nasib
Menyisir desir-desir mimpi
Tiada bosan menyiasati sepi

#Selamat jalan, semoga kedamaian senantiasa menyertaimu kawan...
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 10 Oktober 2012

Jauh

(senja di Saumlaki, September 2012)

Kita bersua tapi tak kunjung jumpa
kita tertawa dibalik ruang berjeruji hampa
bersemayam dalam gamang masa silam
bersembunyi dari semua lintasan kenyataan

Mentari datang lagi, bulan separuh kembali pergi
pagi kesekian penanda cerita sudah
siang kesekian menyingkap perangkap terik
sore kesekian pula menandaskan cerita sang surya

purnama yang saat silam menghilang kembali pergi
musim pun senantiasa berganti
aku  rasa mungkin sudah sampailah saatnya : seeorang mulai beranjak menjauh dari hati
menyisakan kepingan teka teki
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 19 September 2012

#4

waktu berlalu bagai sembilu, 
helaan nafas tertahan,
saat malam kelam tenggelam perlahan, 
desau angin dingin membeku menembus otak, 
perlahan diam mengendap dalam
»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 17 September 2012

#2

Gemericik keran kamar mandi
satu dua nyamuk menari-nari
membuat aku kesal sendiri
merutuk semakin menjadi-jadi
pelataran rumah sunyi, di kelam hari
Aku terjaga, sendiri

Lantai berdebu, sisa pesta pora malam ini
tak tersentuh pengharum lantai sejak lama
semut-semut hitam berjalan perlahan
kerumuni sisa darah luka semalam

Torehan itu masih nyinyir terasa
menghisap kuat-kuat dari bilik kenangan
menghamparkan semua kebusukan

Aku terkapar tak bermaya
tergugu menatap samar sinar lampu
tersedak suara iklan televisi 
»»  Baca Selengkapnya...

#1

Segalanya gelap
semua celah tertutup rapat : pengap
megap-megap mencari jalan keluar
hampir tumpas seluruh nafas

Hari berjalan lambat
siang hari terasa pekat
malam tak mampu walau hanya sekedar menguap
air mata kering di pelupuk sembab

Mata-mata menatap menusuk
tiap seruan terdengar serak
hela nafas tersendat-sendat
tidur tak lena, makan tak kuasa

perlahan hati membusuk
bernanah di jiwa tebar noda
kelindan luka lebar menganga
gemuruh jiwa bergolak samar
»»  Baca Selengkapnya...

Minggu, 16 September 2012

Tak pernah sekata


di bawah rumpun ketapang
angin bertiup lengang
burung gereja berkejar-kejaran
riak ombak susul menyusul
menghantarkan gelombang ke tepian

di bawah pohon randu
angin semilir terdengar menderu
mengantarkan salam rindu menggantung
menerbangkan burung-burung perling  menuju sarang
menyaksikan kuntul karang mencari makan di tepian

matahari mulai naik sepenggalan
mata nanar silau tertahan
masihkah terselip sebilah kenangan?
#kita tak lagi bersua, kehilangan makna kata-kata..
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 22 Agustus 2012

Teluk Kenangan


seketika kenangan berkelindan, saat tengah malam menjelang. Baiklah, akan kuturutkan kata hati malam ini, sekedar menghibur hati sunyi, membuang semua resah hati. Jam  yg melekat di pergelangan tangan baru menunjukkan 12 tepat tengah malam. Kusambar jaket lusuh favorit itu, lantas kukenakan, bersegera menyalakan sepeda motor tuaku. Jalanan belum lagi sunyi selarut ini, sepeda motor masih berseliweran di sana-sini, anak-anak muda tanggung masih betah nongkrong di sepanjang jalan menuju kota. Tujuanku salah satunya membeli lauk untuk bekal sahur nanti, nasib baik masih ada ibu-ibu cukup renta yang masih setia menjajakan penganan berbuka dari sore tadi. segera setelah membeli bekal makanan buat nanti subuh, aku melanjutkan perjalanan ke arah pelabuhan Ambon. di sepanjang jalan menuju jembatan Losari masih terlihat semarak oleh warung-warung gaul beratapkan tenda-tenda besi. Gegap gempita musik dengan suara bass nyaring masih terdengar bersahut-sahutan.

Bulan separuh bulatan, sepenggalan mengambang hampir tumbang di ufuk barat, malu-malu mengintip di balik awan, gemerlap lampu di landasan pacu bandara di seberang teluk seakan terlihat seperti jajaran api unggun besar berwarna kuning berbaris rapi. Laut telah surut sedari tadi, kecipakan riak kecil yang menyentuh pantai kotor sedikit berlumpur, sayup-sayup terdengar di antara gemuruh suara musik yang tak terdengar lagi harmonis. pedagang durian belum hendak pulang, sengaja begadang menantikan pembeli yang tak kunjung datang. Ini sabtu malam di penghujung bulan, sudah terbiasa sepi pembeli durian, apalagi menjelang larut malam.

#aku terus mencoba mengusir ukiran wajahmu di pantulan sinar rembulan dan lampu-lampu kapal  dari kejauhan itu
3o Juli 2012
»»  Baca Selengkapnya...

Doa

aku sedih hari ini ibu...
bukan hanya karena tidak bisa menikmati lezatnya masakanmu yang selalu spesial di hari raya walau dengan menu seadanya, bukan hanya itu ibu...
bukan pula karena ketidakmampuanku untuk pulang berlebaran tahun ini di tanah kelahiran sana, tentu saja tak hanya itu ibu...
bukan juga hanya karena tidak adanya opor atau ketupat di rumah kontrakanku ini, ini memang tak layak untuk aku tangisi..

ini sedih yang lebih besar dari itu, 
sedih dengan kemunafikan diriku sendiri,
sedih dengan ketidakberdayaan diriku sendiri dalam menghadapi situasi yang rumit dan serba membingungkan, 
sedih pada hati nuraniku yang sudah mulai luntur, 
bisa jadi sudah  melapuk tergerus hidup. 
ternyata hidup semakin rumit, semakin bertambah umur, banyak hal-hal yang tak masuk diakal.

aku lelah ibu, ingin sejenak membaringkan kepala letihku di haribaanmu,
bisa jadi juga aku rindu, rindu akan engkau, rindu ayah, rindu saudara-saudaraku, rindu dengan keponakan-keponakan ku,
rindu menjejak kembali kampung halaman. 
rindu walau hanya untuk berdebat denganmu ayah,
rindu dengan petuah-petuah bijakmu ibu.
lihatlah anakmu ini ibu, berjuang sendiri berjibaku melintasi hari-hari di negeri rempah-rempah ini

aku rindu Tuhan,
hatiku merasa kosong untuk bagian yang itu. 
dan aku rasa ini layak mengingat dosa-dosaku kepadaMu, kepada ibu, ayah, saudara-saudaraku,
tapi aku mohon ya allah,karuniakanlah senantiasa kebahagiaan kepada orang-orang yang ku sayangi, orang-orang yang pernah kusayangi, orang-orang yang pernah menyakitiku, orang-orang yang senantiasa ada untukku dalam situasi apapun,
lapangkanlah dada dan jiwa ini, karuniai pemahaman yang baik senantiasa kepadaku menghadapi segala yang menjadi aral, senantiasa mensyukuri segala nikmatMu.
»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 13 Agustus 2012

Inginnya Aku


aku ingin, suatu hari nanti
kau sambut aku di depan pintu rumah itu
rumah mungil
yang diperoleh dengan mencicil
walaupun mungkin baru akan lunas selang 15 tahun lagi

aku ingin
suatu hari nanti
engkau dan anak-anak kita menyambutku sumringah di depan pintu rumah sederhana itu
walau kecil
masih sanggup melindungi kita dan anak-anak dari hujan serta kepanasan di luar sana

aku ingin
suatu hari nanti
sepulang berkarya
engkau hadirkan senyum itu
senyum penyejuk jiwa yang lelah
senyum pengusir resah dan gundah
senyum pengobar semangatku berjuang lalui hari-hari

aku ingin
tak mengapa jika harus menjadi keinginanku yang terakhir sebelum meninggalkan dunia fana
ketika keluarga kita telah memekar
bak bunga yang merah merona di usia matangnya
engkau dan anak-anak kita melepas kepergianku dengan senyum tulus mengembang
dengan ikhlas tanpa raungan
walau berurai air mata
karena kesanalah sejatinya tempat kita akan bermuara.
»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 07 Agustus 2012

Benci

Aku membencimu
seperti awan pada angin yang senantiasa membawanya mengembara
Aku membencimu
seperti sabun pada air yang menjadikannya binasa
Aku membencimu
sebenci cicak pada dinding dan atap tempatnya merayap
Aku masih membencimu
seperti pengungsi banjir pada sungai yang meluluhlantakkan pondasi jembatan mimpi
Aku membencimu
seperti pada tak terbilang perumpamaan dan sejuta pengandaian yang tak perlu lagi untuk kusebutkan
Aku masih membencimu
karena kerap usik kantuk menjelang pagiku


#proses melupakan tak semudah teorinya, semakin kuat usaha untuk menimbunnya, semakin kuat pula berontak ia keluar dari kuburnya, tak semudah filosofi buang air besar, yang dari semenjak kecil sudah berkwintal-kwintal dikeluarkan, namun tak pernah sedetikpun jadi bahan fikiran....

Ambon, 07 Agustus 2012
menjelang 10 hari terakhir bulan nan mulia
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 25 Juli 2012

Mengapa Kembali



Desing gemuruh jet bercampur bising
kabut tipis menyambut sinis di sepanjang landasan pacu
seakan bertanya : hendak apa kembali?

pepohonan masih setia menghias jalan
belum hendak gugur di musim panas
tiba di jantungmu rimbun rimba beton terhampar luas
dihiasi bebungaan dan pohon kusam di sepanjang jalan bebas hambatan
barangkali ini pagi kesekian di musim panas meranggas
dan pagi kesekian pula penanda cerita kandas


Batavia, 7 Juli 2012 


»»  Baca Selengkapnya...

Kamis, 05 Juli 2012

Barangkali Ada Yang Ingin Kau Tanyakan

Hujan Tumpah
Langit Meludah
Kita berkemas
dari masa lalu yang cemas

pertemuan kita tersangkut di jalan
tenggelam dalam secangkir kopi hitam
masa silam yang dingin.

dering telepon
bunyi alarm
mengingatkan mimpi semalam
pada senyummu yang basah
mulutmu yang resah

kita cerita tentang kursi-kursi yang berdebu
ruang tamu yang berantakan
uang kontrakan yang belum dibayar
dan bau pesing kamar mandi

apa yang kita ramalkan dari masa lalu saudara?
ramalan nasib yang membelot dari rencana
pertemuan yang tak terbayangkan sebelumnya
jadi hantu di tubuhmu
tumbuh serupa tulang dan rambut di kepalamu

Kedung Darma Romansha, Harian Kompas 1 Juli 2012
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 20 Juni 2012

Mungkin Tahu



aku tahu,
akan sampai saatnya nanti
seperti saat ini
semua harus diakhiri
ketakutan tiada terperi
berjajar pada mistar ruang rapi
tertimbun mengendap sepi,
hempasan rintik hujan
sepi memikat
banjir menghujat
longsor jiwa susul menyusul

aku pun tahu
semuanya tak pernah nyata
tergambar dalam bayang ilusi semu
tersuruk dalam kabut entah
tertimbun pada ruang ragu
sesekali diterpa cahaya
tak cukup membuatnya bermaya

maka
mari kita senandungkan lupa
pada jiwa mekar merona
tak perlu membebat luka
sendiri ia temukan makna

#terima kasih atas kesempatan dan waktu luang yang telah diberikan, biarkanlah waktu yang melesat cepat perlahan-lahan menimbun semua mimpi-mimpi usang nan sederhana itu..

»»  Baca Selengkapnya...

Minggu, 17 Juni 2012

Tak Mungkin



Taufik Ikram Jamil:



Engkau amat setia kepada tubuhmu
hingga bayang-bayangmu pun
tak mungkin kuharapkan

Aku dagang lalu
tak mengenal diri
jauh tak jarak
dekat tak gapai-gapai

maka aku pun lewat
kemudian menuju diriku
dengan risau sebagai hala

halalkanlah mata dan pandanganku
yang pernah tersangkut
di hatimu paling pinggir
agar bisa kuingat
masa-masa indah bersamamu
hingga aku waspada
terhadap keburukan 
yang menjadi detak di jantungku

maafkanlah lidah dan ucapanku
yang pernah kau mamah
di lambungmu paling kecil
hingga dapat kunikmati
saat-saat manis bersamamu
hingga aku tahu
tentang kepahitan
yang menjadi rasa di empeduku

lalu biarkanlah kusimpan acuhmu
dalam buntalan yang kupikul
supaya aku sadar
bahwa ada orang lain yang kau cintai
hingga dikau
tak kekurangan kasih sayang

nafasku akan mendoakan kebahagiaanmu
setiap melangkah
langkahku akan mengaminkan ceriamu
bahkan lenggang tanganku
hanya akan mau berayun
saat engkau merasa begitu tersanjung

(: semalaman tak kuasa mata terpejam
berjuta rasa tak berasa menghunjam jiwa
perihnya melebihi seribu sembilu memarut dada
tertidur sebentar tak lena
terbangun di saat dhuha
kehilangan sadar
berharap semua hanya mimpi belaka


tapi kenyataan memang tak bisa berdusta
semuanya terjadi di depan mata
begitu saja
bak petaka
datang tanpa pengharapan
pergi dalam kesunyian
sehening tibanya dahulu)

#semuanya hadir penuh makna, semuanya berlangsung sempurna, semoga senantiasa bahagia...

»»  Baca Selengkapnya...