Tampilkan postingan dengan label renungan hari ini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan hari ini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2015

N/A

Iba hatiku melihat jalan hidupmu saudara
Entah apa yang salah
Kurus tubuhmu jadi cerminan
Tirus wajahmu memprihatinkan

Ketahuilah olehmu :
Aku bukannya sudah tak perduli
Hanya sengaja membiarkanmu
Dimatangkan oleh waktu
Ditempa oleh kesulitan-kesulitan hidup

Mungkin caraku tak berkenan dihatimu
Biarlah biar
Waktu yang nanti kan menjawabnya
Semoga kau berubah menjadi manusia yang lebih baik

Semoga saja kau segera sembuh
Dari penyakit yang tak dapat kuobati
Dari penyakit yang tak dikenal dikalangan dokter modern sekalipun

Karena, pada akhirnya kau juga akan menjadi pemimpin
Dan semoga segera kau temukan jalan pulang






Enschede, 2015
»»  Baca Selengkapnya...

Jumat, 17 Oktober 2014

Terpisah Jauh

Setahun lebih telah berlalu, sejak kuketikkan segenap kata-kata itu, tentang puji sanjung pada orang di masa lalu. Setahun setengah tidaklah mudah, serba berliku, penuh dengan teka teki waktu, penuh dengan tawa sumringah, atau kecewa tak terluah, bahkan tangisan tanpa suara. Setahun setengah tidaklah mudah, sampai engkau hadir melengkapi kebahagiaan ini. Ya, setahun setengah yang tak terasa. Kini kita terpisah pada jarak 11 ribu kilometer, oleh samudera dan daratan yang lebih besar dari diri kita tentunya. 

-----------------

Tiga minggu sudah menjalani hidup di benua berbeda, dengan budaya yang tak sama, cuaca yang lebih dingin terasa, makanan yang tanpa rasa.
Kau lihat dedaunan menguning itu berguguran dihembus angin, rintik hujan walau kecil mulai ramai bak menari-nari
Lihat juga langkah kaki orang-orang yang terburu seperti terkejar atau mengejar sesuatu
pakaian yang mulai tertutup dan berbahan tebal
pertanda, musim gugur telah tiba, musim dingin akan segera menjelang
-----------

Aku masiih bertanya-tanya, tentang rubah yang kerap singgah
tentang serigala yang nyaring melolong
atau tentang anjing yang masih mengais-ngais kotoran di halaman orang

aku juga sering dibuat terheran, oleh kura-kura yang senantiasa menyembunyikan kepala
atau tentang lintah yang senantiasa haus darah

mungkin pandanganku nanar sudah
pendengaranku mulai samar
mulutku pun terasa kelu
menyeret kaki yang semakin berat
mengikis setiap jengkal karat semangat


Enschede, 7 Oktober 2014
»»  Baca Selengkapnya...

Jumat, 19 April 2013

Kontemplasi III


Hampir seminggu sudah waktu berjalan meninggalkan tanah dimana aku pernah menabur benih-benih mimpi masa depan, tempat bertemu dengan orang2 aneh nan hebat, menjadi kampung ketiga dalam kurun waktu 4 tahun lebih ke belakang, menjadi saksi bisu ketika aku mendengar dan menyaksikan berbagai tragedi dan peristiwa-peristiwa besar.
Meninggalkan para sahabat yang termasuk kategori terbaik dalam kurun waktu setahun ke belakang, menjadi saksi vokal sekaligus tak berdaya menghadapi segala macam kemunafikan dan kebobrokan, bahkan yang tercetus dari dalam diri sendiri.
Kini, di negeri Kie Raha, negeri empat kesultanan, aku masih merindukan masa-masa itu, masa-masa menjalani segala macam tantangan dan rintangan sekaligus juga masa-masa hebat, masa ketika aku dan kalian berbagi cerita akan mimpi dan kesulitan hidup dalam remang malam, masa ketika kita ditempa oleh berbagai kesulitan dalam jalan cerita hidup yang berliku. Masa dimana kita membangun mimpi-mimpi setinggi langit dengan kemampuan yang masih sedikit, berhiaskan caci cela dan ejekan hina dari orang-orang yang tak pernah suka, bermandikan peluh sebesar biji jagung dan tetesan darah  serta rembesan air mata untuk menganulir itu semua. Di saat semuanya tampak telah mulai berkembang pesat, aku diasingkan kembali di negeri Utara, dipaksa membawa segunung makian dan protes yang masih tersemat di dada.


Desember 2012
»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 09 April 2013

Kontemplasi


Sudahkah kita berkemas menapaki masa kini
Meninggalkan masa lalu yang suram
Menjauh dari masa dulu yang kelam
Merindukan masa lampau yang temaram; meneduhkan

Atau masihkah terpancang rasa enggan
Rindu  dendam yang bertalu-talu
Tentang memori masa dulu
Terselip pada sebilah kenangan

Sudahkah kau siapkan bekal sepanjang jalan nanti
Lobang-lobang menganga siap diisi
Benak-benak paham siap diuji
Jeruji-jeruji mimpi kita gergaji?!
»»  Baca Selengkapnya...

Jumat, 11 Januari 2013

Hikmah Jum'at #2


Riya merupakan salah satu penyakit mematikan, ibarat sebuah ruangan dengan sebuah mesin kendaraan yang sedang menyala di dalamnya, tak ada ruangan terbuka, tiada celah sedikitpun untuk udara bisa bersirkulasi. Tiada lobang sedikitpun bagi emisi karbon monoksida untuk bisa bereaksi dengan udara lainnya serta menetralkan racun yang ada di dalam tubuh senyawanya. Tak membutuhkan waktu yang lama tentunya, racun tersebut akan dihirup mau tidak mau oleh makhluk hidup yang ada di dalamnya. Tentu saja ini akan berakibat fatal, kematian memrupakan hasil akhirnya. Begitu pula halnya dengan hati manusia, jika dalam perumpamaan di atas karbon monoksida merupakan wujud nyata dari sebuah penyakit hati yang bernama ria, dan makhluk hidup yang ada di ruangan tertutup tersebut merupakan manusia, tentu saja dapat terbayang bagaimana nasib si manusia yang ada di dalamnya. Minimal walaupun tidak mati secara serta merta, kondisi tubuhnya pun akan lemah tak berdaya, kematian akan menjemput juga pada akhirnya. Riya sebagai sebuah sikap yang lahir dari hati tak terlihat, seperti halnya karbon monoksida yang tak terlihat , tak bisa diraba, dan tak tercium oleh sensor hidung manusia.

Segala macam amalan yang seharusnya bisa menghantarkan pemiliknya ke gerbang kebahagian sepanjang masa, terbakar tak bersisa akibat riya yang menyertainya. Jangan-jangan selama ini kita telah mengamalkan dan membiasakan penyakit hati ini. Kita melakukan amalan salih hanya agar disebut sebagai saleh di mata manusia, kita berburu ilmu dan segala gelarnya hanya agar dapat dipuji orang, mengharapkan jabatan yang tinggi, atau mengharapkan pujian penghormatan dari seluruh makhluk, atau kita membantu orang lain hanya agar disebut dermawan atau agar bisa minta tolong kepada orang yang telah dibantu suatu hari nanti—sungguh sebuah kesia-siaan yang kadang tak terasa telah mendarah daging, bahkan seorang yang berbuat riya lebih sering tak sadar akan perilaku riya yang telah dilakukaannya, atau bahkan jangan-jangan mengingkarinya alias tidak merasakan berbuat seperti itu.

Tak heran masalah ria ini selalu menjadi salah satu  perhatian penting dari kanjeng rasul Muhammad SAW, juga para ulama terkenal selalu mengingatkan kita akan salah satu penyakit hati ini, jangan-jangan kita senantiasa melakukannya, dan setiap kali melakukkannya seringkali mengingkarinya?!
»»  Baca Selengkapnya...

Kamis, 01 November 2012

Tentang Senja


        Berkelah menikmati suasana sore di pantai mardika kota Ambon selalu bisa menambah pengalaman baru, mengembalikan mood yang telah lama menghilang di balik semua kejadian yang susul menyusul, menghilangkan segenap lelah setelah beraktivitas seharian. Suasana hiruk pikuk di tengah lalu lalang orang-orang yang berseliweran masuk dan keluar terminal, mama-mama pedagang asongan rokok dan permen, pak polisi yang selalu berjaga siaga di tengah ramainya lalu lintas massa, mahasiswa yang hilir mudik sepulang dari kampus, atau keluarga kecil yang sekedar iseng menikmati suasana sore nan damai. Akan lebih lengkap lagi rasanya jika menenteng kamera, entah itu kamera bawaan telepon seluler, kamera saku, atau bahkan ada saja yang menyempatkan hunting foto dengan kamera sekelas DSLR dengan memboyong tripodnya, belajar mengabadikan momen indah yang tak setiap hari bisa dipandang dan dikagumi di salah satu pojokan terpadat kota ini. 
Mungkin aku salah satu di antara orang-orang yang selalu terperangah dan takjub , boleh jadi menikmati dengan segenap hati semburat mentari tumbang di ufuk barat menjelang senja hari. Komposisi warna yang disajikan sedemikian rupa, campur tangan tuhan alam semesta menciptakannya sempurna dan betah untuk ditatap berlama-lama, bahkan menggugah hati. Duhai, sempurnanya lukisan cahaya ini, bahkan dengan gear kamera termahal sekalipun tak akan bisa menandingi kejernihan mata memandang, perangkat kamera yang termahal dimuka bumi ini sekalipun tak akan bisa merekam kesempurnaan semburat cahaya tuhan ini, boleh jadi karena memandang ini semua hanya  akan menjadi sempurna bila dilakukan dengan hati, ketakjuban akan semburat jingga yang bertaburan di langit senja, ketakjuban akan mahalnya sebuah nikmat memiliki mata normal, ketakjuban akan komposisi warna dan suasana yang tak akan bisa diciptakan oleh manusia super jenius sekalipun--seandainya diberikan puluhan bahkan ratusan warna dari cat-cat yang tersedia dan telah ditemukan oleh penemu cat-cat terkemuka di seluruh dunia.
Bahkan dengan segenap daya upaya seorang manusia dengan mengumpulkan seluruh kekuatan dan kemampuan serta kepandaian , ditambah dengan perangkat terhebat yang bisa ditemukan oleh umat manusia di seluruh penjuru dunia tak akan bisa membuat paduan warna dinamis seperti langit senja yang mempesona, lalu kenapakah rasa sombong dan takabur itu masih bersemayam di jiwa??

Senja Kala di Pantai Mardika Ambon



»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 15 Oktober 2012

Hikmah Jum'at

Hidup penuh dengan aturan, dunia juga diciptakan penuh dengan aturan dan keteraturan. bayangkan bila bumi, bulan, matahari, bintang, dan planet-planet lainnya tidak teratur orbitnya, pastilah sudah bertabrakan sejak lama. Orang-orang yang beriman selalu menaati segala aturan yang ditetapkan oleh tuhannya dengan menjauhi segala larangan  dan melaksanakan segenap perintahNya. sebuah ketidakteraturan tentu saja akan mengakibatkan kekacauan, kerusakan.

Contoh nyata, seseorang hanya akan bisa hidup sehat dengan mau menjaga segenap kesehatan yang telah dianugerahkan kepada dirinya. Telah diciptakan malam untuk beristirahat dan siang untuk mencari karuniaNya. Jika hendak melawan aturan ini dengan cara mencari karunia di saat gelap tiba dan tidur pada saat matahari sedang bersinar dengan terang benderangnya, maka tinggal menunggu penyakit yang akan menggerogoti tubuh pada akhirnya.

Aturan telah benar adanya, hanya saja memang terkadang manusia selalu mencoba mengingkari segala aturan yang melekat pada dirinya. Manusia dengan akal fikiran dan hawa nafsunya berusaha mencari celah dari setiap aturan yang telah ada, mencari ruang yang terkecil untuk melakukan pembangkangan. Selalu saja menyalahgunakan logika dangkalnya membenarkan segala pembangkangan dan penyangkalan kodrat diri.

Jadi seyogyanya, seorang muslim yang baik selalu paham dan tahu aturan. hidupnya penuh dengan keteraturan. Mulai dari istirahat teratur, beribadah teratur, makan teratur, sedekah teratur, dan lainnya. karena pada dasarnya hidup dan kehidupan bersandarkan pada sendi keteraturan. Maka hanya orang-orang yang mau diatur dan memahami keteraturan sajalah yang akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 10 Oktober 2012

Statis

berkecimpung dalam rutinitas yang tak berkesudahan, tenggelam dalam ritme hidup yang itu-itu saja. masih merasa jauh tertinggal dari jejak-jejak langkah kaki mereka. Duhai, sungguh hidup ini bak sebuah lelucon, yang berbuat baik yang sering mendapat cacian, yang sedang belajar ikhlas akan senantiasa mendapatkan sebuah hinaan. alangkah tipis batas antara mencoba berbuat baik dan dibodohi oleh keadaan, teramat samar batas antara belajar ikhlas dengan mau saja dimanfaatkan. Betapa semua seperti terlihat sia-sia belaka. Antara resah yang masih mengingkari kegamangan diri, atau hanya takut berjalan di depan bayangan sendiri. Ataukah ini sebuah hukuman atas segala penyangkalan dan kemunafikan diri?
»»  Baca Selengkapnya...

Sabtu, 22 September 2012

Sakit

Terkadang sebuah penyakit dan rasa sakit diperlukan untuk mengenyahkan kesombongan diri, terkadang sebuah luka diperlukan untuk bisa lebih dari sekedar berkaca, memahami apa saja yang layak untuk disyukuri dari sebuah kemalangan. Terkadang kegilaan juga diperlukan agar bisa dapat terus waras dalam kehidupan di jaman edan ini.

Seorang dokter saja bisa salah mendiagnosa sebuah penyakit walaupun berbekal pengetahuan dan referensi yang memadai, apatah pula seorang manusia pasti sering tergelincir dalam jebakan-jebakan ilusi di dalam hidupnya.

Anugerah yang telah dimiliki acapkali diabaikan dan dilalaikan ketika terbentur pada suatu peristiwa yang menguras segenap emosi jiwa, aku hidup hanya dari persangkaan yang tidak benar pada diriku sendiri, bersandar pada bayang semu jejak langkah rancu, tertatih pada komponen hati yang ringkih, mengaduh pada setiap cekokan obat pahit yang seharusnya menjadikanku kuat, berteriak sengal dan merasa direngkuh sepi di tengah keramaian.
»»  Baca Selengkapnya...

#5

Kalau sedang sakit, butuh berobat, hindari sebisa mungkin ke dokter, apalagi ke dokter praktek, harganya selangit, supaya ga sakit, maka rajin-rajinlah berolahraga, makan dan istirahat yang cukup. Harga yang harus dibayar untuk berobat di negeri ini semakin menggila, orang yang kekurangan materi hanya bisa gigit jari. berobat ke dokter karena sakit, sungguh bukan perkara yang indah untuk dikatakan, bukan karena sakitnya, tapi lebih karena harus juga memikirkan berapa duit yang harus dikeluarkan ketika harus mampir menyapa sang dokter.

Kalau sedang sakit, butuh berobat, hindari sebisa mungkin ke dokter, apalagi ke dokter praktek, harganya selangit, supaya ga sakit, maka rajin-rajinlah berolahraga, makan dan istirahat yang cukup. Harga yang harus dibayar untuk berobat di negeri ini semakin menggila, orang yang kekurangan materi hanya bisa gigit jari. Ongkos berobat saat ini di negeri ini cukup mahal, bukan hanya di puskesmas atau rumah sakit umum, betapa akan lebih merobek kantong lagi jika harus berobat di klinik atau ke dokter yang membuka praktek di sore menjelang malam hari. Bukan hanya biaya dokternya saja yang meroket, konon harga obatpun tak ikut ketinggalan naik, padahal katanya sudah ada subsidi obat dari pemerintah, program pengobatan untuk masyarakat miskin yang bernama jamkesmas dan program-program brilian lainnya.

Kalau sedang sakit, butuh berobat, hindari sebisa mungkin ke dokter, apalagi ke dokter praktek, harganya selangit, supaya ga sakit, maka rajin-rajinlah berolahraga, makan dan istirahat yang cukup. Harga yang harus dibayar untuk berobat di negeri ini semakin menggila, orang yang kekurangan materi hanya bisa gigit jari. Padahal jika menilik kembali kepada sumpah profesi dokter indonesia, isinya sungguh teramat mulia. Sumpah yang diadopsi dari Hypocrates ini sebenarnya sangat mulia jika seluruh dokter mampu melaksanakan semua sumpah dengan tidak membelokkan maknanya, butuh kejernihan hati untuk bisa melaksanakan ini tentunya. Entah apa yang terjadi, sebagian besar dokter (walaupun ada segolongan besar lainnya) cenderung lebih mengindahkan kepentingan duniawi. Layanan kesehatan yang seharusnya dilakukan dengan hati nurani, harus lebih bersandarkan pada kekuatan materi, dalam hal ini seberapa besar kekayaan materi yang dimiliki pasien.

Kalau sedang sakit, butuh berobat, hindari sebisa mungkin ke dokter, apalagi ke dokter praktek, harganya selangit, supaya ga sakit, maka rajin-rajinlah berolahraga, makan dan istirahat yang cukup. Harga yang harus dibayar untuk berobat di negeri ini semakin menggila, orang yang kekurangan materi hanya bisa gigit jari. Orang yang kantongnya terbatas hanya bisa menghela nafas. Program berobat gratis untuk kalangan yang tak berpunya resmi hanya slogan dan tipu-tipu belaka, hanya dipakai dalam rayuan kampanye manusia-manusia indonesia dengan wajah sejuta.
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 22 Agustus 2012

Doa

aku sedih hari ini ibu...
bukan hanya karena tidak bisa menikmati lezatnya masakanmu yang selalu spesial di hari raya walau dengan menu seadanya, bukan hanya itu ibu...
bukan pula karena ketidakmampuanku untuk pulang berlebaran tahun ini di tanah kelahiran sana, tentu saja tak hanya itu ibu...
bukan juga hanya karena tidak adanya opor atau ketupat di rumah kontrakanku ini, ini memang tak layak untuk aku tangisi..

ini sedih yang lebih besar dari itu, 
sedih dengan kemunafikan diriku sendiri,
sedih dengan ketidakberdayaan diriku sendiri dalam menghadapi situasi yang rumit dan serba membingungkan, 
sedih pada hati nuraniku yang sudah mulai luntur, 
bisa jadi sudah  melapuk tergerus hidup. 
ternyata hidup semakin rumit, semakin bertambah umur, banyak hal-hal yang tak masuk diakal.

aku lelah ibu, ingin sejenak membaringkan kepala letihku di haribaanmu,
bisa jadi juga aku rindu, rindu akan engkau, rindu ayah, rindu saudara-saudaraku, rindu dengan keponakan-keponakan ku,
rindu menjejak kembali kampung halaman. 
rindu walau hanya untuk berdebat denganmu ayah,
rindu dengan petuah-petuah bijakmu ibu.
lihatlah anakmu ini ibu, berjuang sendiri berjibaku melintasi hari-hari di negeri rempah-rempah ini

aku rindu Tuhan,
hatiku merasa kosong untuk bagian yang itu. 
dan aku rasa ini layak mengingat dosa-dosaku kepadaMu, kepada ibu, ayah, saudara-saudaraku,
tapi aku mohon ya allah,karuniakanlah senantiasa kebahagiaan kepada orang-orang yang ku sayangi, orang-orang yang pernah kusayangi, orang-orang yang pernah menyakitiku, orang-orang yang senantiasa ada untukku dalam situasi apapun,
lapangkanlah dada dan jiwa ini, karuniai pemahaman yang baik senantiasa kepadaku menghadapi segala yang menjadi aral, senantiasa mensyukuri segala nikmatMu.
»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 13 Agustus 2012

Inginnya Aku


aku ingin, suatu hari nanti
kau sambut aku di depan pintu rumah itu
rumah mungil
yang diperoleh dengan mencicil
walaupun mungkin baru akan lunas selang 15 tahun lagi

aku ingin
suatu hari nanti
engkau dan anak-anak kita menyambutku sumringah di depan pintu rumah sederhana itu
walau kecil
masih sanggup melindungi kita dan anak-anak dari hujan serta kepanasan di luar sana

aku ingin
suatu hari nanti
sepulang berkarya
engkau hadirkan senyum itu
senyum penyejuk jiwa yang lelah
senyum pengusir resah dan gundah
senyum pengobar semangatku berjuang lalui hari-hari

aku ingin
tak mengapa jika harus menjadi keinginanku yang terakhir sebelum meninggalkan dunia fana
ketika keluarga kita telah memekar
bak bunga yang merah merona di usia matangnya
engkau dan anak-anak kita melepas kepergianku dengan senyum tulus mengembang
dengan ikhlas tanpa raungan
walau berurai air mata
karena kesanalah sejatinya tempat kita akan bermuara.
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 08 Agustus 2012

Astaga, Tabiat Buruk Wanita

disalin menggunakan judul aslinya dari blog Tere Liye :


Khaizaran adalah seorang budak wanita yang dibeli oleh Khalifah al-Mahdi dari Nukhas. Khalifah lalu memerdekakan, menikahi, memuliakannya, dan meresmikan untuk kedua orangtuanya gelar kehormatan. Namun ketika dia marah, dia berkata kepada Khalifah, "Aku tidak pernah menyaksikan kebaikan sedikitpun pd dirimu."
Astaga!!
Al-Barmakiyyah juga seorang budak wania seperti dirinya. Raja Maroko Al-Mu'tamad bin Ibad membelinya. Kemudian dia membebaskan dan menjadikannya sebagai permaisuri. Ketika dia melihat budak-budak wanita bermain di tanah, dia teringat masa lalunya, sehingga dia pun tertarik untuk bermain dengan tanah bersama mereka. Maka Raja memerintahkan untuk menghamparkan bahan wewangian yang tak terhingga menyerupai tanah, sehingga dia dapat bermain dan bersenang2. Namun ketika dia marah suatu hari, dia berkata pada raja, "Aku tidak pernah menyaksikan kebaikan sedikitpun pada dirimu."
Astaga!!
Beruntung Raja hanya tersenyum dan menyindirnya: 'Kanda tidak pernah berbuat baik, walaupun di hari tanah, kan?" Permaisurinya pun tersipu malu.
Memang sudah merupakan tabiat wanita --kecuali sebagian kecil dr mereka-- melupakan segala kebaikan, ketika suami atau orang lain melakukan kelalaian dan kesalahan kepadanya. Dalam hadis Rasulullah SAW, yang mulia disebutkan: "Wahai para wanita, perbanyaklah bersedekah, karena sesungguhnya aku melihat kebanyakan kalian adalah penghuni neraka." Mereka bertanya, "Kenapa wahai Rasulullah?" Rasulullah SAW, bersabda, "Kalian terlalu tergesa2 melaknat, banyak mencerca, dan tidak berterima-kasih terhadap suami."
Beliau bersabda, "Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita, karena mereka tidak berterima-kasih terhadap suami, tidak berterima kasih terhadap perbuatan baiknya. Bila kamu berbuat baik kepada salah seorang dr mereka sepanjang tahun kemudian dia melihat kesalahan sedikit pada dirimu dan dia akan berkata, "Aku tidak pernah menyaksikan kebaikan sedikitpun pd dirimu." (HR Bukhari).
Astaga!!

Jadi, apabila seseorang telah mengenal tabiat wanita, maka dia tidak akan marah, sedih, dan naik pitam karena mereka mengingkari kebaikannya...

tulisan asli dari : DR Aidh Bin Abdullah Al-Qarni
»»  Baca Selengkapnya...

Sabtu, 13 Maret 2010

sugesti

Semua masalah dan derita yang mendera takkan pernah kunjung sirna tanpa kau bangun asa

Sisakan ruang di jiwa, hindari jumawa




: bangun selalu sugesti positif terhadap diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan masa depan; jangan pernah remehkan hal-hal kecil yang bersifat prinsipil.
»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 22 Desember 2009

Ibu




seantero jagat memuja mu...
tak terhitung berapa banyak peluh dan darah yang telah kau curahkan....
tak terperi besarnya derita yang telah kau jalani..
tak terbilang semua jasamu...
mampukah membalas??



Negeri Timur jauh
»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 16 November 2009

haji&dermawan






Seorang pemurah adalah pohon surga yang rantingnya berjuluran ke dunia. Barangsiapa menggaet rantingnya itu, ia akan terbawa ke surga. Bakhil adalah pohon neraka yang rantingnya pun berjuluran ke dunia. Maka, barangsiapa menggaet rantingnya itu, ia akan terbawa ke neraka--Nabi Muhammad SAW

Salah satu ciri seorang yang dikaruniai haji mabrur itu di antaranya adalah menjadi seorang yang pemurah sesampainya di Tanah Air kembali. Biarpun skalanya kecil-kecilan, ia nampak pemurah di antara sesamanya. Ia tersenyum lebih dulu ketika berpapasan dengan saudaranya semuslim. Ia mengucapkan assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh lebih dulu.

Ia menjulurkan tangannya lebih dulu ketika bersalaman. Ia bertegur-sapa lebih dulu. Bila saat makan tiba, ia lebih dulu mengajak makan. Seandainya makannya di warung, ia mentraktir temannya itu, walau uangnya sendiri pas-pasan. Untuk keramahan dan kemurahan itu semua, ia tak merasa terbebani sedikit pun. Ia merasa biasa-biasa saja.

Hadis riwayat Al-Baihaqi di atas menunjuk perilaku Rasulullah sendiri sebagai sifat yang diteladani umatnya. Sebagai seorang pemurah, Nabi biasa membagi-bagikan harta kekayaannya kepada umatnya, sering sampai tak bersisa bagi keluarganya. Kambing, gandum, uang, pakaian, emas, dan semuanya yang pantas bagi keluarganya, pantas pula sebagai hadiah bagi kaumnya.

Tampak sekali Rasul ingin duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dan sama rata, sama rasa dengan pengikut-pengikutnya, bahkan dalam situasi yang paling rawan sekalipun. Nabi selalu ingin berbagi kebahagiaan setiap saat, juga ketika wahyu Allah deras diturunkan. Subhanallah.

Oleh seorang sarjana Barat, Rasulullah dilukiskan sebagai suatu aspek dari aktivitas Tuhan, benar-benar orang pilihan, Al-Mushthafa, maka sunnahnya, cara hidupnya, menjadi satu-satunya aturan perilaku yang sah bagi kaum Muslimin. Sebagai seorang uswatun hasanah, teladan yang baik, Nabi membawa sifat-sifat pancaran cahayaNya, yaitu pemurah dan penyayang. Umatnya merasakan kehangatannya sewaktu bergaul dengan beliau, merasa diayomi, merasa dibelaskasihi, merasa mendapatkan segalanya yang terbaik, lebih dari siapa pun dalam kehidupan sosial antar umat.

Menjadi pemurah itu menyehatkan badan, pikiran, perilaku, dan kehendak-kehendak. Semoga sifat pemurah itu berhasil dibawa para jemaah haji kita sebagai oleh-oleh yang paling berharga bagi sesamanya di Tanah Air. Di dalam sifat dan tindakan pemurah itu tercermin pandangan yang penuh optimisme, hingga sampai pada muaranya adalah keadilan sosial.

(ahi, republika online)
»»  Baca Selengkapnya...