Tampilkan postingan dengan label Tentang Konservasi dan Kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang Konservasi dan Kerja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 April 2013

Kontemplasi III


Hampir seminggu sudah waktu berjalan meninggalkan tanah dimana aku pernah menabur benih-benih mimpi masa depan, tempat bertemu dengan orang2 aneh nan hebat, menjadi kampung ketiga dalam kurun waktu 4 tahun lebih ke belakang, menjadi saksi bisu ketika aku mendengar dan menyaksikan berbagai tragedi dan peristiwa-peristiwa besar.
Meninggalkan para sahabat yang termasuk kategori terbaik dalam kurun waktu setahun ke belakang, menjadi saksi vokal sekaligus tak berdaya menghadapi segala macam kemunafikan dan kebobrokan, bahkan yang tercetus dari dalam diri sendiri.
Kini, di negeri Kie Raha, negeri empat kesultanan, aku masih merindukan masa-masa itu, masa-masa menjalani segala macam tantangan dan rintangan sekaligus juga masa-masa hebat, masa ketika aku dan kalian berbagi cerita akan mimpi dan kesulitan hidup dalam remang malam, masa ketika kita ditempa oleh berbagai kesulitan dalam jalan cerita hidup yang berliku. Masa dimana kita membangun mimpi-mimpi setinggi langit dengan kemampuan yang masih sedikit, berhiaskan caci cela dan ejekan hina dari orang-orang yang tak pernah suka, bermandikan peluh sebesar biji jagung dan tetesan darah  serta rembesan air mata untuk menganulir itu semua. Di saat semuanya tampak telah mulai berkembang pesat, aku diasingkan kembali di negeri Utara, dipaksa membawa segunung makian dan protes yang masih tersemat di dada.


Desember 2012
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 25 Juli 2012

Pesona Telaga Biru di kaki Gunung Gede Pangrango

Pagi yang cerah di hari ini, menjelang pertengahan bulan juli. Matahari baru saja beranjak naik sepenggalan, namun masih malu-malu bersinar, kabut menjelang kemarau melingkupi segenap penjuru. Hawa dingin menusuk tulang, seiring angin sepoi yang bertiup lembut. Jalanan masih sepi, segenap penjuru Cibodas mulai menggeliat, bergegas mewujudkan mimpi-mimpi tadi malam. Jam 06.30 pagi bis yang saya tumpangi telah sampai di pelataran parkir Cibodas, sebuah tempat indah nan sejuk yang terletak di kawasan kaki gunung Gede-Pangrango sekaligus merupakan salah satu gerbang masuk menuju kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.
Cibodas merupakan tempat kantor Balai Taman Nasional Gunung Gede Pangrango berpusat, dimana segala macam urusan perijinan hendaknya diurus terlebih dahulu disini sebelum memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. daerah nan sejuk dan asri ini terletak di kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Selain menyuguhkan wisata alam khas pegunungan dan petualangan khas melewati gunung hutan di jalur pendakian menuju puncak gunung Gede dan Pangrango, Cibodas juga menawarkan keindahan lain lewat wisata alam kebun rayanya yang tersaji di kaki gunung Gede. Kebun Raya Cibodas menyajikan sisi keindahan lainnya melalui berbagai koleksi tumbuhan khas hutan tropis dan pegunungan yang dapat segera anda nikmati keindahannya, selain itu juga tersedia koleksi berbagai macam tanaman hias  jenis Bonsai dan beraneka macam jenis Kaktus yang dijajakan di warung pinggir sepanjang jalan menuju Cibodas.
Namun tujuan saya kali ini bukanlah Kebun Raya Cibodas melainkan kawasan Telaga Biru yang terletak di jalur pendakian menuju puncak gunung Gede-Pangrango. Telaga Biru merupakan salah satu objek wisata yang ada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Terletak sekitar 1,5 Km dari gerbang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dengan waktu tempuh sekitar setengah jam perjalanan. Perjalanan menuju Telaga Biru juga merupakan jalur pendakian ke puncak Gunung Gede dan Gunung Pangrango selain searah menuju air terjun/curug Cibeureum.
Perjalanan menuju Telaga Biru merupakan jalan selebar 2-3 meter, dengan bebatuan alam tersusun rapi sepanjang jalan. Jalan yang dilalui cenderung landai, dengan sedikit tanjakan kecil di sepanjang jalur, tentu saja bukan jalur yang sukar untuk dilalui. Embun pagi yang membasahi dedaunan sudah mulai menghilang, hanya menyisakan sedikit jejak basah pada daun dan kelopak bunga yang terhampar sepanjang jalan menuju Telaga Biru. Dedaunan menguning yang terhempas jatuh ke tanah di hari-hari kemarin menghiasi jalan setapak di sepanjang jalur pendakian.  Sepanjang jalan berbatu sudah mulai dilewati pengunjung, memang tak seramai hari libur akhir pekan. Sebagian besar merupakan pengunjung yang hendak berpelesir ke objek air terjun Cibeureum. Pengunjung rata-rata berusia muda, sebagian besar masih anak-remaja usia sekolah, baik yang setingkat SLTP ataupun SLTA, ada juga dari kalangan mahasiswa, dalam rombongan besar (lebih dari 10 orang), maupun yang hanya berdua sepanjang jalan. Hanya sedikit ditemui pengunjung dewasa dan anak-anak usia balita.
Dalam perjalanan menuju ke Telaga Biru kita akan disuguhi pemandangan khas hutan pegunungan, pohon-pohon yang berukuran besar dari jenis Rasamala (Altingia excelsa), juga bebungaan beragam warna dan bentuk yang dapat ditemui di pinggiran jalan setapak.  Jika beruntung, di tengah jalan akan menemui Owa Jawa (Hylobates moloch) secara langsung, jenis mamalia ini termasuk jenis satwa yang sering dijumpai di sepanjang perjalanan, hanya saja butuh suasana yang hening dan tanpa kegaduhan.
Telaga Biru adalah telaga yang terletak di kaki gunung Gede yang memiliki luas sekitar 500 meter persegi. Air di dalam telaga sering berubah warna secara dramatis, tergantung dari pertumbuhan alga di dalamnya. terkadang berwarna hijau, coklat, atau biru. Mungkin karena telaga ini sering terlihat berwarna biru kehijauan, makanya lebih dikenal sebagai Telaga Biru. Selain dapat menikmati keheningan dan keindahan Telaga Biru, pengunjung juga dimanjakan dengan suara kicau burung yang sering bermain di seputaran telaga. Gemericik air sungai kecil yang bening dan bersih sebagai sebuah simfoni alam mengalir lembut di pinggiran telaga ini . Telaga Biru bukanlah sebuah tempat tujuan wisata alam utama di daerah ini, beberapa pengunjung yang kebetulan singgah di tempat ini menyebutkan bahwa mereka hanya singgah sejenak di Telaga Biru untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan menuju air terjun Cibeureum. Hal ini dimungkinkan karena di sekitar Telaga ini terdapat sebuah Gazebo berukuran 12 meter persegi yang disediakan pengelola Taman Nasional agar pengunjung dapat mengistirahatkan diri sebelum melanjutkan kembali perjalanan.
Telaga Biru menawarkan pesona tersendiri dari megahnya keindahan khas alam hutan pegunungan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango nan asri, dimulai dari jalan setapak yang sedikit menantang, gemericik air sungai yang mengalun syahdu, kicau burung dan jerit Owa Jawa yang memikat hati, sampai berbagai jenis flora dan fauna lainnya yang tak kalah menarik. Melakukan perjalanan dengan keluarga maupun kerabat ke Telaga Biru merupakan petualangan tersendiri yang layak dicoba, jejaki setiap kesan keindahan yang disajikan.

25 Juli 2012 (5 Ramadhan 1433 H), Semoga Ramadhan tahun ini dapat kita tempuh hingga di penghujungnya nanti dan beroleh keberkahan serta ampunan.

Beberapa frame hasil jepretan selama di Cibodas dan seputaran Telaga Biru






















»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 25 Juni 2012

Semalam di Binaya, Sebuah Catatan Singkat Perjalanan Pendakian Binaya


Surat undangan pendakian puncak Binaya itu ternyata masih terselip rapi pada bundelan surat-surat masuk yang ada di bagian umum dan persuratan di kantor saya, padahal surat tersebut sebetulnya telah sampai di kantor seminggu sebelumnya, hanya saja karena kesibukan saya yang jarang berada di kantor selama 1 minggu belakangan ini karena harus menangani kegiatan di lapangan membuat surat tersebut harus tertahan di sana selama 1 minggu lebih, beruntung pelaksanaan kegiatan “Tracking Binaya”-seperti yang tertera di surat undangan, masih dalam jangka waktu semingguan lagi. Surat undangan resmi dari pihak Balai Taman Nasional Manusela ini sudah saya tunggu-tunggu sejak sebulan yang lalu sejak salah satu teman yang bertugas di Taman Nasional Manusela mengabarkan rencana kegiatan itu. Pendakian ke Binaya merupakan salah satu obsesi yang harus saya pendam selama 3 tahun terakhir ini, siapa pula yang tidak tergoda dengan pendakian salah satu Seven Summits Indonesia yang merupakan perwakilan puncak tertinggi  dari daratan Maluku dan Maluku Utara dalam konsep pendakian gunung yang dipopulerkan oleh Hendri Agustin sejak 2008. Dalam sebuah situs di internet yang dirilis oleh Hendri Agustin, sang penggagas Seven Summit Indonesia , tercatat bahwa baru seorang Dody Johan Jaya pada bulan Juli 2011 yang mengaku telah menempuh ke tujuh puncak tersebut, menurut rumor yang beredar dia adalah seorang presenter salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia yang juga merupakan anggota Mapala UI. Walaupun tidak tertutup kemungkinan ada orang lain yang telah mendahuluinya, hanya saja mungkin kurang diekspos selama ini, atau tidak ingin mengekspos diri. Tak banyak ditemui catatan tentang perjalanan pendakian ataupun ekspedisi gunung Binaya, beberapa organisasi pecinta alam atau penggiat kegiatan alam terbuka cenderung tidak mempublikasikan catatan perjalanan yang mereka miliki, andai pun ada hanya bisa diperoleh dengan mengontak langsung individu yang pernah melakukan pendakian ke sana.
Banyak sudah para pendaki-pendaki tangguh dari pulau jawa yang berusaha mengakrabi dan menjajaki tantangan di jalur Binaya, entah itu melalui jalur Utara maupun jalur Selatan. Mulai dari ekspedisi Mapala UI pada tahun 1999, seakan tak mau kalah, Wanadri pun telah menjejakkan kakinya sejak lama di puncak Binaya, begitu menurut catatan pihak Taman Nasional Manusela selaku pengelola kawasan konservasi ini. Memang terdengar sepele jika hanya melihat pada tingginya puncak Binaya, dengan puncak tertingginya hanya berkisar pada ketinggian 3027 mdpl, beberapa gunung di pulau Jawa banyak yang memiliki ketinggian yang tak jauh beda dengan puncak Binaya atau bahkan lebih tinggi, namun bisa dicapai dengan mudah. Lain halnya dengan Binaya, dimana waktu efektif perjalanan dengan rute paling cepat untuk mencapai puncak bisa menghabiskan selama 4-5 hari, itupun belum termasuk perjalanan kembali turun dari puncak.  Salah satu stasiun televisi swasta tanah air pernah melakukan perjalanan selama 20 hari untuk perjalanan naik dan turun gunung Binaya, sedangkan menurut para anggota pecinta alam yang bermarkas di Maluku sendiri, perjalanan paling cepat bisa ditempuh selama 7-8 hari perjalanan, dengan catatan yang melakukan pendakian adalah orang yang terampil dan terlatih. Beragam medan pendakian yang disuguhkan, mulai dari jalan lebar dengan pengerasan pasir dan batu, berjalan menyusuri badan sungai sepanjang hari, jalur datar setengah hari penuh tanpa pemandangan berarti, jalur berlumpur hingga sedalam lutut saat musim penghujan tiba, serta medan terjal berbatu cadas tajam dan labil dengan jurang yang seolah tak berujung di kiri dan kanan jalurnya.
Judul kegiatan yang dilakukan dalam rangka perayaan ulang tahun Taman Nasional Manusela ke-15 ini adalah “Tracking Binaya”. Kegiatan ini adalah wujud sukacita pengelola kawasan konservasi di bagian tengah pulau terbesar di kepulauan Maluku yang terkenal dengan julukan “Nusa Ina” (Nusa ina berarti “pulau ibu”, sebagian besar masyarakat yang ada dikalangan masyarakat Maluku dan Maluku Utara menganggap bahwa pulau Seram yang berjuluk Nusa Ina merupakan pulau induk dimana seluruh penduduk aslinya menyebar dari pulau ini ke seluruh penjuru Maluku dan Maluku Utara) ini dalam menyambut bertambahnya usia salah satu kawasan konservasi yang berstatus Taman Nasional ini selain juga sebagai ajang promosi bagi dunia pariwisata di lingkup propinsi Maluku. Tak kurang dari 50 orang berpartisipasi menyukseskan acara ini dalam kegiatan pendakian yang dilakukan selama lebih kurang 9 hari dari tanggal  14 Mei s/d 22 Mei 2012. Menurut pihak Balai Taman Nasional Manusela, jalur yang dilewati dalam kegiatan Tracking Binaya tahun 2012 merupakan jalur dengan waktu tempuh yang paling singkat. Jalur ini bermula dari desa Huaulu yang berada di bagian Utara Taman Nasional Manusela, dan berujung di desa Yaputi, kecamatan Tehoru yang terletak jauh di Selatan kawasan Taman Nasional. Lebih detilnya jalur yang dilalui dalam kegiatan “Tracking Binaya” kali ini adalah : desa Huaulu-dusun Roho-Waisamata-desa Kanikeh-Waensela-Waehuhu-Waefuku-Puncak Binaya-Nasapeha-Aimoto-desa Piliana-desa Yaputi. Sepanjang perjalanan akan disuguhkan pemandangan asri dan memukau, jalur yang dapat dengan segera memacu adrenalin mengalir deras, bercengkerama dengan penduduk asli yang tinggal jauh di pedalaman dengan kearifan lokalnya, serta berbaur dengan kemegahan dan keperkasaan alam khas Binaya.
Memang diperlukan persiapan dan bekal yang matang dalam perjalanan ini, baik fisik, mental, juga perlengkapan. Tentu saja sensasi dan pengalaman yang nanti didapat sepanjang perjalanan merupakan hal yang sepadan dengan segala tantangan dan resiko yang menyertainya. Terisolasinya kawasan taman nasional Manusela merupakan berkah sekaligus surga bagi para penyuka dan penggiat kegiatan alam terbuka, satu dari segelintir kecil kawasan hutan pegunungan di negeri tercinta yang masih menawarkan sejuta pesona di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang melanda. Jika anda cukup kuat secara fisik dan mental, punya waktu luang untuk bertualang, mungkin layak mencoba melakukan pendakian ke Binaya, satu dari 7 tiang “atap tertinggi” negeri ini.


#Dokumentasi pribadi narsis dan semi narsis sepanjang perjalanan

















»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 24 Januari 2012

Pesona Taman Wisata Alam Gunung Api Banda, Dari Puncak Gunung Hingga ke Dasar Laut

Peluit kapal yang bersuit nyaring membangunkan segenap penumpang, pertanda kapal segera merapat di pelabuhan Banda Naira. Tak lama berselang, terdengar lantang suara melalui corong pengumuman yang ada di atas kapal KM. Ngapulu, menginformasikan kepada seluruh penumpang bahwa kapal akan segera bersandar di pelabuhan Banda Naira. Demikian pengumuman singkat yang dikumandangkan oleh Bagian Penerangan kapal Pelni yang saya tumpangi dari pelabuhan Tual selama 10 jam perjalanan, sebuah ibukota kabupaten di bagian Tenggara Maluku.
Banda Naira adalah nama sebuah pulau utama di antara beberapa pulau yang terdapat di kepulauan Banda, disebut utama kerana merupakan ibukota kecamatan Banda, juga merupakan tempat yang paling banyak  penduduknya dibandingkan pulau-pulau lain di gugusan kepulauan Banda. Kepulauan Banda sendiri merupakan kumpulan pulau-pulau kecil yang terbentuk akibat adanya aktivitas vulkanik, terletak di bagian Tenggara Pulau Ambon. Perjalanan ke Banda dapat ditempuh dengan menggunakan Kapal Pelni yang biasa disebut masyarakat sebagai kapal putih, dengan jadwal 2 minggu sekali dan waktu tempuh sekitar 7-8 jam perjalanan dari kota Ambon. Juga dapat ditempuh melalui jalur udara dengan waktu tempuh  sekitar 45 menit dan jadwal satu-satunya maskapai yang melayani rute Ambon-Banda Naira ini hanya dua kali dalam seminggu. Jika punya uang berlebih dan cuaca sedang baik, Banda Naira bisa juga dicapai dengan menggunakan speed boat carteran dari kota Ambon dengan waktu tempuh sekitar 5-6 jam, untuk ini anda harus merogoh kocek sekitar 20-30 juta rupiah sekali jalan. Waktu terbaik untuk melakukan kunjungan wisata ke daerah kepulauan seperti  Banda  adalah pada bulan Oktober sampai dengan Nopember, karena pada bulan tersebut cuaca khususnya keadaan laut cenderung lebih bersahabat dibandingkan bulan-bulan lainnya. Namun kunjungan dapat juga dilakukan pada rentang bulan Januari-Juni, hanya saja cuaca mungkin agak kurang menentu.
Kepulauan Banda pernah menorehkan tinta emas sekaligus darah pada catur perpolitikan dunia di masa lampau, sebutan The Bride of Moluccas pernah disandang kepulauan ini beberapa dasawarsa silam, yang berarti pengantin wanita kepulauan Maluku. Bangsa-bangsa kolonialis Eropa pernah bertarung mempertaruhkan nyawa dan maruah mereka untuk dapat menguasai gugusan kepulauan ini di masa  lalu. Tersebutlah Belanda dan Inggris pernah menjejakkan kakinya dan mencoba menanamkan pengaruh dan kekuasaannya di salah satu kepulauan Maluku ini. Biang malapetakanya tak lain dan tak bukan adalah Pala dan Fuli (bunga yang menempel pada buah pala), rempah-rempah yang paling dicari pada jamannya oleh segenap bangsa mulai dari benua Asia sampai Eropa. Pala dan Fuli pula menjadi pangkal utama penyebab terpencar dan  musnahnya suku asli Banda.
Sekitar beberapa ratus meter di penjuru Barat pulau Banda Naira, berdiri tegak gagah menjulang bak sebuah kukusan raksasa dengan warna hijau muda dan puncaknya yang gundul. Inilah pulau Gunung Api Banda yang merupakan rangkaian gunung berapi di kepulauan Maluku yang berjajar dari Tenggara jauh sampai bagian Utara kepulauan Maluku. Pulau Gunung Api Banda dapat dicapai dengan menggunakan Kole-kole dari Banda Naira, yaitu perahu kecil baik yang didayung menggunakan pengayuh manual maupun dengan mesin sejenis ketinting. Kole-kole merupakan sejenis taksi air yang biasanya digunakan masyarakat setempat untuk bepergian di sekitar kepulauan Banda, terutama antara pulau Banda Naira, pulau Banda Besar, dan pulau Gunung Api Banda.
 Gunung Api Banda merupakan kawasan konservasi yang berstatus sebagai Taman Wisata Alam dengan luasan sekitar 734,46 Ha. Jalur pendakian hanya ada di sisi Timur pulau, dengan topografi yang agak curam. Titik tertinggi gunung api ini adalah sekitar 636 mdpl. Untuk dapat sampai ke puncak gunung biasanya membutuhkan sekitar 1,5 – 2 jam perjalanan. Perjalanan sebaiknya dilakukan pada pagi hari tapi tidak dianjurkan terlalu pagi. Menurut pos pengamatan gunung api Banda sebaiknya perjalanan mendaki gunung ini dilakukan di atas jam 7 pagi, hal ini untuk menghindari bahaya gas beracun belerang karena status gunung api Banda yang masih aktif sampai saat ini.
Segenap gugusan kepulauan Banda akan terlihat indah dan menawan dari puncak gunung api Banda, sebut saja pulau Banda Besar/Lontor, pulau Hatta, pulau Syahrir/pulau Pisang, pulau Ay, dan pulau Rhun. Pulau-pulau yang tersebar di seantero penjuru jika dilihat dari puncak gunung api inilah yang menyusun gugusan kepulauan Banda. Pulau terjauh dari gugusan kepulauan Banda adalah pulau Manuk yang terletak di bagian Tenggara pulau Banda Naira dengan jarak sekitar 122 Km. Selain itu di puncak gunung api Banda juga dapat dilihat bekas kawah letusan beberapa tahun silam, hawa belerang yang menyengat dapat tercium di sekitar puncak gunung api ini. Pasir dan kerikil, dan sejenis rumput kerdil mendominasi tutupan tanah di sekitar puncak. Dari puncak ini terlihat jelas pemandangan pulau Banda Naira, mulai dari Benteng Belgica, kawasan pemukiman masyarakat Banda Naira, juga pelabuhan udara Banda Naira. Pemandangan indah gugusan kepulauan Banda hanya dapat dilihat dari puncak gunung api Banda apabila cuaca cerah dan tanpa awan, sungguh pemandangan yang memanjakan mata setelah dihantui panas dan lelahnya pendakian sepanjang jalan menuju puncak gunung api.
Selain puncaknya yang menyajikan pemandangan alam yang menawan, gunung api Banda juga menyediakan dunia bawah laut yang tak kalah menarik. Lava Flow merupakan salah satu titik penyelaman yang wajib dikunjungi oleh orang  yang mengaku cinta dunia bawah air. Walaupun pemandangan bawah laut dapat dinikmati hanya dengan melakukan Snorkling, namun akan lebih lengkap rasanya apabila melakukan penyelaman di salah satu titik selam favorit para penyelam ini. Titik penyelaman Lava Flow menyajikan pemandangan dunia bawah laut dengan formasi terumbu karang yang indah serta gerombolan ikan berwarna-warni  yang mudah untuk dijumpai dari kedalaman 2 m – 30 m. Lava Flow sendiri merupakan tempat turunnya lahar ketika gunung api Banda meletus. Disebutkan bahwa gunung api Banda pernah meletus beberapa kali dengan rentang waktu sekitar 80-100 tahun sekali  yaitu pada tahun 1614, 1720, 1810, 1891, dan beberapa erupsi kecil yang pernah terjadi. Terakhir kali meletus pada tanggal 8 Mei 1988. Pada letusan yang terakhir mengakibatkan terumbu karang yang ada di sekitar titik penyelaman Lava Flow yang sekarang hancur total, sekitar 70.000 m2 areal terumbu karang yang ada tertutup oleh lahar yang keluar dari gunung api Banda. Menurut laporan penelitian yang dilakukan oleh Tomascik et al pada tahun 1993 yang dimuat dalam laporan Kajian Coremap Indonesia tentang kepulauan Banda bekerjasama dengan UNESCO tahun 2001, disebutkan  bahwa selang lima tahun setelah meletusnya gunung api Banda telah menyebabkan pertumbuhan terumbu karang dan hidupan bawah laut yang khas di sekitar Lava Flow. Hal ini dapat dilihat dari tingkat keragaman jenis, kelimpahan terumbu karang, dan pertumbuhan terumbu karang yang paling tinggi. Tercatat sebanyak 124 jenis karang yang ditemukan, dimana merupakan jumlah yang mewakili sekitar 40% dari keseluruhan jenis terumbu karang yang ada di bagian Timur Indonesia. Persentase penutupan terumbu karang sekitar 65%, dimana sekitar 35% spesies yang ditemukan merupakan jenis langka. Penelitian yang sama juga mencatat temuan tentang karang jenis Acropora,di mana Lava Flow merupakan tempat dengan jenis Acropora yang sangat beragam. Ditemukan 45 jenis Acropora di sekitar Lava Flow, sekitar 45% diantaranya merupakan jenis langka dan sukar ditemukan. Diketahui pula koloni Acropora mempunyai tingkat pertumbuhan sebesar 30 cm per tahun, dengan tingkat pertumbuhan radial sebesar 15 cm per tahun.
Gunung Api Banda merupakan salah satu tempat yang tepat untuk menikmati keindahan alam Maluku, jauh dari hiruk pikuk keramaian, disarankan untuk penikmat keindahan alam yang mengutamakan tempat yang damai dan tenang. Hamparan keindahan dan harmoni alam terangkum lengkap dari puncak gunung api Banda sampai ke dasar laut. Pulau-pulau di sekitar gunung api Banda juga menyajikan paket tujuan wisata yang tak kalah menarik, mulai dari wisata sejarah peninggalan pemerintah kolonial Belanda dan Inggris, rumah-rumah tempat pengasingan tokoh-tokoh nasional pada jaman penjajahan dahulu, sampai dengan pemandangan alam gugusan kepulauan Banda dari daratan sampai ke dasar lautnya. Minimnya akses transportasi yang melayani rute ke arah kepulauan Banda dapat diakali dengan perencanaan perjalanan yang matang. Mari berkunjung ke Banda, nikmati sajian pesona keindahan alam dan sejarahnya.

Lampiran Foto



Pemandangan Gunung Api Banda dari Pulau Banda Naira


Gunung Api Banda Naira dari Pulau Banda Besar

Banda Neira dari Puncak Gunung Api Banda

Banda Neira dari Puncak Gunung Api Banda (2)

Benteng Belgica di Banda Naira

Pemandangan bawah air di seputaran Gunung Api Banda

Pemandangan bawah air di seputaran Gunung Api Banda (2)


Pemandangan bawah air di seputaran Gunung Api Banda (3)





Daftar Pustaka
1.      Balai Konservasi Sumber Daya Alam Maluku, 1998.  Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam di Provinsi Maluku. Ambon.
2.      Balai Konservasi Sumber Daya Alam Maluku. 2009. Rencana Pengelolaan Taman Wisata Alam Gunung Api Banda. Ambon
3.      Banda Naira. Dari http://www.thebubucenter.com . 13 November 2010
4.      Maluku. Dari http://id.wikipedia.org/wiki/Maluku . 13 November 2010
5.   Wirdjoatmodjo,Nuning.2001.Banda Islands Coastal Ecosystems. Dari  http://www.terangi.or.id/publications/pdf/banda_report.pdf, 9 Januari 2012



»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 23 Januari 2012

Menyelam Untuk Pemula

Menyelam adalah kegiatan yang biasanya dilakukan di dalam air, lengkap dengan segala macam peralatan yang disyaratkan. Agar dapat bertahan lama di bawah air, biasanya dilengkapi dengan sejumlah peralatan, dengan sebutan asingnya SCUBA(Self Contained Underwater Breathing Apparatus).Olahraga yang satu ini memang banyak digemari dikalangan orang berdasi (sebutan populer bagi kami untuk orang-orang yang berasal dari kalangan menengah ke atas). Tapi bukan berarti kalangan kere dan pas-pasan seperti saya dan anda tidak dapat menikmatinya, hanya saja mungkin akan berbeda ritme dan iramanya (halah..emangnya lagi ngomongin lagu). Yang penting terpenuhi segala macam prosedur dan tetek bengeknya yang menjadi faktor penentu kenyamanan dan keamanan kita bersama, tentu saja kegiatan penyelaman akan menjadi aktivitas fisik yang mengasyikkan. Mulai dari memikul tabung sendiri, sampai membersihkan segala macam peralatan seusai menyelam(kalau ini tentu saja gaya menyelamnya para penyelam dengan anggaran yang ngepas). Mulai dari penyelaman di perairan yang minim arus, sampai dengan penyelaman pada perairan berarus deras yang bikin lidah terjulur bak selembar dasi.

Hampir 3 taun lebih lamanya menunggu untuk dapat mulai mempelajari hobi yang satu ini. Disebut hobi karena melakukannya tidak berawal dari niat untuk pengembangan diri menjadi atlit, akan tetapi lebih kepada tuntutan profesi, juga rasa ingin tahu batas kemampuan diri, dan tentunya tak lupa juga sebagai wadah membangun relasi. Waktu yang dilalui selama itu dikarenakan kurangnya modal dan kemauan selama ini, ditambah dengan peralatan selam yang harganya bisa merobek kantong kami karyawan kelas selop swallow ini.

Tersebutlah orang-orang semacam Pieter Moein Manihin, Samsul Bahri, Asril Tulehu yang menjadi orang-orang penyebar “racun” di antara kami, merekalah para dedengkot dunia penyelaman yang ada di negeri Maluku. Kenapa disebutkan kami, karena disini saya tidak sendiri, ada beberapa diver maniak yang notabene pemula, tapi tak kurang semangat "45" nya, selalu menggebu-gebu di dada seandainya udah menyangkut kegiatan ini. Tak kurang juga dukungan dari para master POSSI DKI Jakarta, khususnya yang ada jauh di bagian Barat kepulauan kami berada saat ini, juga teman-teman yang berafiliasi di PADI, SSI, dan NAUI.

Dunia selam memang dunia yang menarik, mulai dari orang-orangnya yang terlibat, sampai dengan segala macam peralatan dan perlengkapan yang mendukungnya. Di dunia asing bawah air ini, kita tetap jadi orang terasing di bawah sana, lengkap dengan segenap gemuruh nafas di setiap helaannya, layaknya seekor ikan yang sedang belajar berenang dengan gerakan lambatnya, juga terlihat ribeud dengan segala macam perlengkapan dan peralatan yang menyertainya. Dunia penyelaman adalah salah satu dunia yang unik dimana kita bisa merasakan sensasi terbang layaknya seorang astronot kawakan atau tokoh superhero superman, hanya yang membedakan kita terbangnya nun jauh di bawah air dengan segala macam peradatan yang harus dipatuhi jika tak ingin kualat (baca : celaka).

Mari menyelam, lengkapi segenap prosedurnya agar aman, utamakan kenyamanan, dan bersiap memasuki dunia yang “memabukkan”, hayati segenap ciptaan tuhan di lain dunia, semoga mencerahkan hati dan jiwa. Datangi segera tempat-tempat yang menawarkan paket kursus menyelam, dapatkan juga sertifikasinya. Tiada kata yang tepat kepada orang yang ingin mengenal dan akan melakukan penyelaman, selain kata “Selamat datang ke dunia penyelam”, anda disambut dengan hangat di dalamnya.

Beberapa Foto Narsis selama masa latihan.





»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 14 November 2011

Sebuah Tinjauan Tentang Restorasi Terumbu Karang

(Disampaikan dalam Pelatihan Singkat Transplantasi Karang Sistem Rockpile, Kerjasama BKSDA Maluku dan Darmapala Universitas Darussalam, Ambon)
“Walaupun restorasi dapat membantu usaha konservasi, restorasi selalu menjadi pilihan kedua dibandingkan perlindungan habitat alami. Penggunaan restorasi ex situ (mitigasi) sebagai penggantian atas kerusakan atau degradasi habitat dan populasi dalam implementasi terbaik biasanya tidak didukung oleh bukti nyata, dan implementasi terburuk malah menyebabkan kerusakan.”
(Young, T.P. (2000). Restoration ecology and conservation biology. Biological Conservation, 92: 73-83)


Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Sekitar 70% atau 2/3 dari luas keseluruhan wilayah negara kesatuan republik indonesia merupakan lautan. Indonesia merupakan negeri dengan rangkaian pulau sebanyak 17.500 , dengan garis pantai keseluruhan mencapai sekitar 18 ribu kilometer, yang berarti negara ini memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Dalam catatan, sekitar 60% dari total penduduk indonesia ( sebanyak 140 juta lebih penduduk) merupakan penduduk yang tinggal di pesisir, sebagai konsekuensi logis hal ini mengakibatkan sebagian besar penduduk indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap laut. Lazimnya pada setiap ketergantungan manusia akan sumber daya alam, dalam hal ini berupa sumber daya laut, akan mengakibatkan terjadinya tekanan terhadap sumber daya tersebut beserta komponen yang terlibat di dalamnya.
Sebagai negara bahari, indonesia sampai saat ini belum banyak memanfaatkan kekayaan lautnya. Banyak pula yang belum diketahui mengenai laut Indonesia yang luas ini. Sebut saja untuk jenis ikan, masih banyak jenis yang belum tercatat dalam pengetahuan manusia. Sebuah studi penilaian cepat (rapid assessment) terhadap isi laut Kepulauan Raja Ampat,sekitar 80 km sebelah Barat Laut Kabupaten Sorong, Propinsi Papua Barat yang dilakukan oleh tim Conservation International pada pertengahan 2001, menyimpulkan bahwa  salah satu kawasan laut Indonesia Timur itu dihuni oleh 972 jenis ikan karang, 456 jenis terumbu karang,dan 699 jenis moluska/hewan bertubuh lunak. Dari ratusan jenis yang teridentifikasi, tenyata ditemukan tujuh jenis spesies terumbu karang baru dan tiga spesies ikan baru. Sungguh suatu hasil penelitian yang menakjubkan, walaupun belum berdampak banyak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.
            Terumbu karang merupakan komponen dari ekosistem laut yang sangat penting. Hal ini dikarenakan selain fungsinya sebagai pencegah erosi pesisir, sumber pangan, juga merupakan sumber mata pencaharian bagi ratusan juta penduduk yang tinggal di pesisir pada lebih dari 100 negara di dunia. Baik berupa sumberdaya laut yang melimpah untuk dipanen, maupun melalui wisatawan yang tertarik dengan keindahannya, keanekaragamannya dan pasir putih pantainya yang terjaga.
            Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanhella. Hewan ini memiliki bentuk unik dan warna beraneka rupa serta dapat menghasilkan CaCO3 atau sejenis zat kapur. Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai spesies tumbuhan laut, hewan laut, dan mikroorganisme laut lainnya yang belum diketahui.
Terumbu karang secara umum dapat dinisbatkan kepada struktur fisik beserta ekosistem yang menyertainya yang secara aktif membentuk sedimen kalsium karbonat akibat aktivitas biologi (biogenik) yang berlangsung di bawah permukaan laut. Bagi ahli geologi, terumbu karang merupakan struktur batuan sedimen dari kapur (kalsium karbonat) di dalam laut, atau disebut singkat dengan terumbu. Bagi ahli biologi terumbu karang merupakan suatu ekosistem yang dibentuk dan didominasi oleh komunitas koral.
Dalam peristilahan 'terumbu karang', "karang" yang dimaksud adalah koral, yaitu sekelompok hewan dari ordo Scleractinia yang menghasilkan kapur sebagai pembentuk utama terumbu. Terumbu adalah batuan sedimen kapur di laut, yang juga meliputi karang hidup dan karang mati yang menempel pada batuan kapur tersebut. Sedimentasi kapur di terumbu dapat berasal dari karang maupun dari alga. Secara fisik terumbu karang adalah terumbu yang terbentuk dari kapur yang dihasilkan oleh karang. Di Indonesia semua terumbu berasal dari kapur yang sebagian besar dihasilkan koral. Kerangka karang mengalami erosi dan terakumulasi menempel di dasar terumbu.
Terumbu karang pada umumnya hidup di pinggir pantai atau daerah yang masih terkena cahaya matahari sampai kedalaman kurang lebih 50 m di bawah permukaan laut. Beberapa tipe terumbu karang dapat hidup jauh di dalam laut dan tidak memerlukan cahaya, namun terumbu karang tersebut tidak bersimbiosis dengan zooxanhellae dan tidak membentuk karang. Terumbu karang merupakan salah satu komponen utama sumber daya pesisir dan laut, disamping hutan mangrove dan padang lamun. Terumbu karang dan segala kehidupan yang ada didalamnya merupakan salah satu kekayaan alam yang dimiliki bangsa Indonesia yang tak ternilai harganya. Diperkirakan luas terumbu karang yang terdapat di perairan Indonesia adalah lebih dari 60.000 km2, yang tersebar luas dari perairan Kawasan Barat sampai Kawasan Timur Indonesia. Contohnya adalah ekosistem terumbu karang di perairan Maluku dan Nusa Tenggara.
Terumbu karang merupakan suatu kesatuan ekosistem yang kompleks dan rumit  yang memiliki banyak fungsi, diantaranya adalah penyedia pangan, pelindung pantai, Tempat berpijah, bertelur, dan mencari makan berbagai biota laut, objek wisata bahari, dan tentunya juga sebagai  sumber penghasil bahan baku obat-obatan. Kerusakan terumbu karang akan berakibat pada penurunan fungsinya secara signifikan. Tentu saja tak ada yang dapat diharapkan dari kondisi terumbu karang yang rusak. Tak akan ada lagi sumber penyedia pangan, fungsi perlindungan pantai akan menurun secara drastis, ikan akan semakin terdesak keberadaannya yang mengakibatkan produksi perikanan nasional akan menurun, banyak objek wisata yang yang dapat mendatangkan devisa tidak lagi dilirik oleh wisatawan, juga hilangnya kesempatan untuk dapat meneliti keragaman jenis kehidupan laut bagi kepentingan medis dalam rangka menemukan obat-obatan baru.
            Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan, sekitar 46% terumbu karang di indonesia telah mengalami kerusakan yang cukup serius. Secara sadar atau tidak hal ini merupakan akibat dari pengelolaan sumber daya laut yang tidak bijak dan cenderung tidak ramah lingkungan. Eksploitasi berlebihan dengan menggunakan cara-cara instan yang merusak merupakan akar permasalahan yang perlu diambil langkah segera untuk dicermati dan ditindaklanjuti. Penangkapan dan pengambilan hasil laut dengan menggunakan cara yang tidak ramah lingkungan akan berakibat buruk terhadap kekayaan laut. Banyak terumbu karang yang akhirnya mati sebelum berkembang akibat dari eksploitasi sumber daya laut yang tidak ramah lingkungan ini. Penggunaan bom ikan, misalnya akan mengakibatkan hancurnya terumbu karang yang merupakan rumah bagi ikan. Jika karang mati dan hancur ujung-ujungnya akan berakibat pada penurunan jumlah penangkapan ikan. Penggunaan racun untuk menangkap ikan berupa nitrat dan fosfat yang disebar pada terumbu karang ditenggarai juga menjadi biang keladi rusaknya ekosistem terumbu karang.
Selain itu, peningkatan suhu bumi yang signifikan dalam satu dasawarsa terakhir atau yang lazim disebut sebagai fenomena pemanasan global (global warming) juga ikut andil merusak terumbu karang. Hal ini terjadi dikarenakan sifat terumbu karang yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama suhu. Peningkatan suhu perairan indonesia pada tahun 1998 sebesar 20-30 C di atas suhu normal telah mengakibatkan pemutihan (Bleaching) karang yang mengakibatkan kematian massal sekitar 90%-95% dari terumbu karang yang mengalami proses pemutihan.
            Berlatarkan pada kerusakan ekosistem terumbu karang yang marak terjadi dalam beberapa dekade terakhir, banyak upaya yang dilakukan oleh berbagai kalangan untuk dapat memulihkan kembali kondisi terumbu karang seperti sedia kala. Tentunya ini merupakan sebuah pekerjaan rumah yang besar, baik untuk kalangan pemerintah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, serta individu-individu yang peduli akan kelestarian ekosistem terumbu karang. Restorasi terumbu karang merupakan salah satu jalan yang ditempuh untuk dapat memulihkan fungsi dari ekosistem terumbu karang, walaupun tentu saja tidak dapat sepenuhnya mengembalikan fungsi terumbu karang seperti sedia kala.
            Restorasi terumbu karang adalah proses untuk membantu memulihkan suatu ekosistem terumbu karang yang telah menurun fungsinya, baik karena rusak maupun hancur. Restorasi merupakan disiplin ilmu yang relatif baru. Pada dasarnya untuk dapat menciptakan ekosistem terumbu karang sangatlah mustahil dikarenakan sifat  ekosistem terumbu karang yang rumit dan kompleks. Walaupun restorasi dapat meningkatkan upaya konservasi, namun restorasi selalu menjadi urutan ke dua dibanding dengan preservasi habitat alami. Terumbu karang yang relatif tidak mendapat tekanan antropogenik, umumnya dapat pulih secara alami dari gangguan tanpa bantuan manusia, dimana untuk terumbu karang yang sehat dan tidak terdapat tekanan dari manusia mampu pulih kembali dengan rentang waktu 5-10 tahun. Restorasi terumbu karang aktif yang telah dilaksanakan dengan beberapa kesuksesan hanya dalam skala beberapa hektar saja. Hal ini dimungkinkan terjadi dikarenakan masih banyak ketidakpastian yang berkaitan dengan pengetahuan tentang restorasi terumbu karang itu sendiri dengan sifat ekosistemnya yang rumit dan kompleks.
“Restorasi ekologi adalah proses untuk membantu pemulihan suatu ekosistem yang telah menurun, rusak, atau hancur”, berangkat dari hal ini yang perlu ditegaskan adalah bahwa intervensi restorasi diciptakan untuk membantu proses-proses pemulihan alami. Apabila proses pemulihan alami tersebut tidak berjalan, maka dibutuhkan bentuk pengelolaan lain sebelum intervensi restorasi berpeluang menjadi sukses. “Bantuan” dalam pemulihan alami dapat berupa bentuk pasif/secara tidak langsung, atau dalam bentuk aktif/intervensi langsung. Bantuan pasif dapat berupa perbaikan pengelolaan aktivitas antropogenik yang menghalangi proses pemulihan alami, sementara untuk bantuan aktif dapat berupa restorasi fisik  dan/atau intervensi restorasi biologis (contohnya transplantasi karang dan biota lainnya ke daerah yang terdegradasi).
Restorasi terumbu karang adalah disiplin yang baru dan sangat tidak bijak apabila dengan keras menekankan apa yang dapat dicapai dengan restorasi. Sangatlah tidak bijak apabila para pengambil kebijakan sepenuhnya percaya bahwa terumbu karang yang fungsional dapat diciptakan oleh intervensi restorasi (seperti mentransplantasi organisme terumbu dari lokasi donor, yang ingin berkembang, ke lokasi di luar zona yang terkena dampak), tanpa adanya penelitian secara komprehensif. Kita harus menegaskan kepada para pengambil keputusan bahwa kita masih berada jauh di belakang dalam proses menciptakan kembali ekosistem terumbu karang yang fungsional (dan bahkan kemungkinan tidak akan pernah tercapai!) sehingga keputusan-keputusan yang mengandalkan mitigasi pengganti terumbu akan menyebabkan kerusakan lebih lanjut.

Daftar Pustaka
Coremap Fase II Kabupaten Selayar-Yayasan Lanra Link Makassar. 2006. Pelatihan Ekologi Terumbu Karang, Benteng, Selayar.
Edwards, A. Dan Gomez, E. 2007. Konsep dan Panduan Restorasi Terumbu : Membuat Pilihan Bijak di Antara Ketidakpastian. Yayasan Terumbu Karang Indonesia. Jakarta
Jurnal Tropika Indonesia Vol.7. No. 3. 2003. Conservation International Indonesia. Jakarta

    »»  Baca Selengkapnya...