Rabu, 09 Oktober 2013

Setengah Kalah

Kita bertarung dengan waktu di celah dinding zaman

Kekalahan telah menunggu didepan


Pada rahim yang lelah


Pada jiwa yang gundah


Pada buku-buku lusuh


Pada jiwa yang tak kokoh


Pada diri yang setengah sadar



Maka, jangan sesaki ruang ini dengan tangisan


Selipkan sebilah harapan


Hanyutkan mimpi2 itu ke muara


Biar laut menyambutnya dengan tataran



Dan semoga kita ingat lekat


Keyakinan itu ada di depan mata


Keyakinan itu akan senantiasa di sana


Sampai kita merengkuhnya




Sukabumi, Sept 2013







»»  Baca Selengkapnya...

Jumat, 19 April 2013

Kontemplasi III


Hampir seminggu sudah waktu berjalan meninggalkan tanah dimana aku pernah menabur benih-benih mimpi masa depan, tempat bertemu dengan orang2 aneh nan hebat, menjadi kampung ketiga dalam kurun waktu 4 tahun lebih ke belakang, menjadi saksi bisu ketika aku mendengar dan menyaksikan berbagai tragedi dan peristiwa-peristiwa besar.
Meninggalkan para sahabat yang termasuk kategori terbaik dalam kurun waktu setahun ke belakang, menjadi saksi vokal sekaligus tak berdaya menghadapi segala macam kemunafikan dan kebobrokan, bahkan yang tercetus dari dalam diri sendiri.
Kini, di negeri Kie Raha, negeri empat kesultanan, aku masih merindukan masa-masa itu, masa-masa menjalani segala macam tantangan dan rintangan sekaligus juga masa-masa hebat, masa ketika aku dan kalian berbagi cerita akan mimpi dan kesulitan hidup dalam remang malam, masa ketika kita ditempa oleh berbagai kesulitan dalam jalan cerita hidup yang berliku. Masa dimana kita membangun mimpi-mimpi setinggi langit dengan kemampuan yang masih sedikit, berhiaskan caci cela dan ejekan hina dari orang-orang yang tak pernah suka, bermandikan peluh sebesar biji jagung dan tetesan darah  serta rembesan air mata untuk menganulir itu semua. Di saat semuanya tampak telah mulai berkembang pesat, aku diasingkan kembali di negeri Utara, dipaksa membawa segunung makian dan protes yang masih tersemat di dada.


Desember 2012
»»  Baca Selengkapnya...

Kontemplasi II

Jalanan tampak lengang, hilir mudik kendaraan berjumlah ribuan
Aku sedang melakukan perjalanan
Tak tampak wajahmu memandu kini
Semuanya tampak semu, berukirkan wajah seseorang dari negeri antah berantah
Semuanya hanya bisu menyaksikan perjalananku kali ini menjemput rindu

Belantara beton satu persatu mulai tertinggal jauh di belakang
Ribuan pohon menyambut ramah di jantung kota itu
Berjajar ratusan armada umum menjajakan jasa

Jalanan yang sempat kulalui dulu dengan seribu asa
Kini hanya menyisakan kepingan cerita
Jembatan penyebarangan tempat kita menyebrang dulu
Kini diam seolah tanpa maya

Setidaknya kita telah mencoba
Toh waktu juga yang selalu menjadi penyembuh segala
Akhirnya keterasingan juga yang akan menjawab semuanya.
»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 09 April 2013

Kontemplasi


Sudahkah kita berkemas menapaki masa kini
Meninggalkan masa lalu yang suram
Menjauh dari masa dulu yang kelam
Merindukan masa lampau yang temaram; meneduhkan

Atau masihkah terpancang rasa enggan
Rindu  dendam yang bertalu-talu
Tentang memori masa dulu
Terselip pada sebilah kenangan

Sudahkah kau siapkan bekal sepanjang jalan nanti
Lobang-lobang menganga siap diisi
Benak-benak paham siap diuji
Jeruji-jeruji mimpi kita gergaji?!
»»  Baca Selengkapnya...

Jumat, 11 Januari 2013

Bertemu


Hari itupun kemudian tiba
Kita dipertemukan dalam rinai hujan
Gemericik tetesan air rapat berjumlah milyaran
Di sudut kota yang tak kukenal

Aku terdiam dalam pesona
Membisu tujuh puluh kata
Menatap semu wajah berbalur rindu

Kali ini bukan pualam
bukan juga batu indah berlian
cukup batu berharga yang belum kukenal

Lantas, kau sajikan semangkuk sup hangat
Sepiring nasi, segelas kopi panas mengepul
Dan setangkup hati berbinar

Aku berujar di hati
Cukup sudah semua ini
Lalu, hendak kemana kita kini?

Biduk telah kurakit
Sampan pun telah kulabuhkan berdampingan
Nakhoda telah disiapkan
ABK menunggu waktu turut serta

Kita berlayar sepanjang usia
Melewati segenap ombak dan gelombang
Semoga layar tak pernah raib
jika pun robek semoga bisa kujahit
»»  Baca Selengkapnya...

Hikmah Jum'at #2


Riya merupakan salah satu penyakit mematikan, ibarat sebuah ruangan dengan sebuah mesin kendaraan yang sedang menyala di dalamnya, tak ada ruangan terbuka, tiada celah sedikitpun untuk udara bisa bersirkulasi. Tiada lobang sedikitpun bagi emisi karbon monoksida untuk bisa bereaksi dengan udara lainnya serta menetralkan racun yang ada di dalam tubuh senyawanya. Tak membutuhkan waktu yang lama tentunya, racun tersebut akan dihirup mau tidak mau oleh makhluk hidup yang ada di dalamnya. Tentu saja ini akan berakibat fatal, kematian memrupakan hasil akhirnya. Begitu pula halnya dengan hati manusia, jika dalam perumpamaan di atas karbon monoksida merupakan wujud nyata dari sebuah penyakit hati yang bernama ria, dan makhluk hidup yang ada di ruangan tertutup tersebut merupakan manusia, tentu saja dapat terbayang bagaimana nasib si manusia yang ada di dalamnya. Minimal walaupun tidak mati secara serta merta, kondisi tubuhnya pun akan lemah tak berdaya, kematian akan menjemput juga pada akhirnya. Riya sebagai sebuah sikap yang lahir dari hati tak terlihat, seperti halnya karbon monoksida yang tak terlihat , tak bisa diraba, dan tak tercium oleh sensor hidung manusia.

Segala macam amalan yang seharusnya bisa menghantarkan pemiliknya ke gerbang kebahagian sepanjang masa, terbakar tak bersisa akibat riya yang menyertainya. Jangan-jangan selama ini kita telah mengamalkan dan membiasakan penyakit hati ini. Kita melakukan amalan salih hanya agar disebut sebagai saleh di mata manusia, kita berburu ilmu dan segala gelarnya hanya agar dapat dipuji orang, mengharapkan jabatan yang tinggi, atau mengharapkan pujian penghormatan dari seluruh makhluk, atau kita membantu orang lain hanya agar disebut dermawan atau agar bisa minta tolong kepada orang yang telah dibantu suatu hari nanti—sungguh sebuah kesia-siaan yang kadang tak terasa telah mendarah daging, bahkan seorang yang berbuat riya lebih sering tak sadar akan perilaku riya yang telah dilakukaannya, atau bahkan jangan-jangan mengingkarinya alias tidak merasakan berbuat seperti itu.

Tak heran masalah ria ini selalu menjadi salah satu  perhatian penting dari kanjeng rasul Muhammad SAW, juga para ulama terkenal selalu mengingatkan kita akan salah satu penyakit hati ini, jangan-jangan kita senantiasa melakukannya, dan setiap kali melakukkannya seringkali mengingkarinya?!
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 02 Januari 2013

Semoga Kaupun Paham


Sodorkan padaku setangkup mimpi
Sejumput sepi
Dan sepotong hati

Ku ramu menjadi sebilah sajak
Berakar pada sekeping puisi
Tercetak pada prosa yang minim makna

Jika kaupun sudi
Hantarkan semangkuk sedih
beserta sepiring duka
biar ku padu-padankan dalam sebait karya nan sederhana

Namun tiada mampu kucipta seloka yang membahana
Atau gurindam yang memendam
Semoga kau pun paham
Semoga tiada dendam 
tiada muram
»»  Baca Selengkapnya...