Kamis, 29 November 2012

Selamat Jalan

Di persimpangan jalan itu, kita bertemu, melabur mimpi dalam denting hari
Di persimpangan jalan itu, bertandang suka, berkunjung duka
Di persimpangan jalan itu, aku, kau, dan mereka belajar untuk paham

Berjalan mengitari roda kehidupan
Mendaki undak tangga kesulitan
Menuruni lembah-lembah kemudahan

Di persimpangan jalan itu, kita akhirnya harus saling melambaikan tangan
Berjalan menyusuri nasib
Menyisir desir-desir mimpi
Tiada bosan menyiasati sepi

#Selamat jalan, semoga kedamaian senantiasa menyertaimu kawan...
»»  Baca Selengkapnya...

Kamis, 01 November 2012

Tentang Senja


        Berkelah menikmati suasana sore di pantai mardika kota Ambon selalu bisa menambah pengalaman baru, mengembalikan mood yang telah lama menghilang di balik semua kejadian yang susul menyusul, menghilangkan segenap lelah setelah beraktivitas seharian. Suasana hiruk pikuk di tengah lalu lalang orang-orang yang berseliweran masuk dan keluar terminal, mama-mama pedagang asongan rokok dan permen, pak polisi yang selalu berjaga siaga di tengah ramainya lalu lintas massa, mahasiswa yang hilir mudik sepulang dari kampus, atau keluarga kecil yang sekedar iseng menikmati suasana sore nan damai. Akan lebih lengkap lagi rasanya jika menenteng kamera, entah itu kamera bawaan telepon seluler, kamera saku, atau bahkan ada saja yang menyempatkan hunting foto dengan kamera sekelas DSLR dengan memboyong tripodnya, belajar mengabadikan momen indah yang tak setiap hari bisa dipandang dan dikagumi di salah satu pojokan terpadat kota ini. 
Mungkin aku salah satu di antara orang-orang yang selalu terperangah dan takjub , boleh jadi menikmati dengan segenap hati semburat mentari tumbang di ufuk barat menjelang senja hari. Komposisi warna yang disajikan sedemikian rupa, campur tangan tuhan alam semesta menciptakannya sempurna dan betah untuk ditatap berlama-lama, bahkan menggugah hati. Duhai, sempurnanya lukisan cahaya ini, bahkan dengan gear kamera termahal sekalipun tak akan bisa menandingi kejernihan mata memandang, perangkat kamera yang termahal dimuka bumi ini sekalipun tak akan bisa merekam kesempurnaan semburat cahaya tuhan ini, boleh jadi karena memandang ini semua hanya  akan menjadi sempurna bila dilakukan dengan hati, ketakjuban akan semburat jingga yang bertaburan di langit senja, ketakjuban akan mahalnya sebuah nikmat memiliki mata normal, ketakjuban akan komposisi warna dan suasana yang tak akan bisa diciptakan oleh manusia super jenius sekalipun--seandainya diberikan puluhan bahkan ratusan warna dari cat-cat yang tersedia dan telah ditemukan oleh penemu cat-cat terkemuka di seluruh dunia.
Bahkan dengan segenap daya upaya seorang manusia dengan mengumpulkan seluruh kekuatan dan kemampuan serta kepandaian , ditambah dengan perangkat terhebat yang bisa ditemukan oleh umat manusia di seluruh penjuru dunia tak akan bisa membuat paduan warna dinamis seperti langit senja yang mempesona, lalu kenapakah rasa sombong dan takabur itu masih bersemayam di jiwa??

Senja Kala di Pantai Mardika Ambon



»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 15 Oktober 2012

Engkaukah itu?


Bibir agak penuh nan mempesona, mata bercahaya, mengguratkan ceria , senyum simpul seolah mampu mengukir bahagia, lesung pipit yang tampak semu semata, senyum itu rasa-rasanya  menggoyahkan jiwa, sapaan khas hangat, kadar gembira yang tak dibuat-buat, sedih yang tak mampu disembunyikan, kesal yang tak tertahan, kritis jadi sebuah keniscayaan, kecerdasan yang membuat banyak orang menghela nafas tertahan.

Berbalut kerudung manis, menutup segenap aurat, membatasi segala mahkota diri, membentengi mata yang berduri. Sedikit gurat keras di wajah, pertanda keras kepala, pertanda matang dengan segala pengalaman hidup. sorot mata tajam, tiada takut perbedaan, kenyang dengan segala macam cobaan. Engkaukah itu??
»»  Baca Selengkapnya...

Hikmah Jum'at

Hidup penuh dengan aturan, dunia juga diciptakan penuh dengan aturan dan keteraturan. bayangkan bila bumi, bulan, matahari, bintang, dan planet-planet lainnya tidak teratur orbitnya, pastilah sudah bertabrakan sejak lama. Orang-orang yang beriman selalu menaati segala aturan yang ditetapkan oleh tuhannya dengan menjauhi segala larangan  dan melaksanakan segenap perintahNya. sebuah ketidakteraturan tentu saja akan mengakibatkan kekacauan, kerusakan.

Contoh nyata, seseorang hanya akan bisa hidup sehat dengan mau menjaga segenap kesehatan yang telah dianugerahkan kepada dirinya. Telah diciptakan malam untuk beristirahat dan siang untuk mencari karuniaNya. Jika hendak melawan aturan ini dengan cara mencari karunia di saat gelap tiba dan tidur pada saat matahari sedang bersinar dengan terang benderangnya, maka tinggal menunggu penyakit yang akan menggerogoti tubuh pada akhirnya.

Aturan telah benar adanya, hanya saja memang terkadang manusia selalu mencoba mengingkari segala aturan yang melekat pada dirinya. Manusia dengan akal fikiran dan hawa nafsunya berusaha mencari celah dari setiap aturan yang telah ada, mencari ruang yang terkecil untuk melakukan pembangkangan. Selalu saja menyalahgunakan logika dangkalnya membenarkan segala pembangkangan dan penyangkalan kodrat diri.

Jadi seyogyanya, seorang muslim yang baik selalu paham dan tahu aturan. hidupnya penuh dengan keteraturan. Mulai dari istirahat teratur, beribadah teratur, makan teratur, sedekah teratur, dan lainnya. karena pada dasarnya hidup dan kehidupan bersandarkan pada sendi keteraturan. Maka hanya orang-orang yang mau diatur dan memahami keteraturan sajalah yang akan mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat.
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 10 Oktober 2012

Statis

berkecimpung dalam rutinitas yang tak berkesudahan, tenggelam dalam ritme hidup yang itu-itu saja. masih merasa jauh tertinggal dari jejak-jejak langkah kaki mereka. Duhai, sungguh hidup ini bak sebuah lelucon, yang berbuat baik yang sering mendapat cacian, yang sedang belajar ikhlas akan senantiasa mendapatkan sebuah hinaan. alangkah tipis batas antara mencoba berbuat baik dan dibodohi oleh keadaan, teramat samar batas antara belajar ikhlas dengan mau saja dimanfaatkan. Betapa semua seperti terlihat sia-sia belaka. Antara resah yang masih mengingkari kegamangan diri, atau hanya takut berjalan di depan bayangan sendiri. Ataukah ini sebuah hukuman atas segala penyangkalan dan kemunafikan diri?
»»  Baca Selengkapnya...

Jauh

(senja di Saumlaki, September 2012)

Kita bersua tapi tak kunjung jumpa
kita tertawa dibalik ruang berjeruji hampa
bersemayam dalam gamang masa silam
bersembunyi dari semua lintasan kenyataan

Mentari datang lagi, bulan separuh kembali pergi
pagi kesekian penanda cerita sudah
siang kesekian menyingkap perangkap terik
sore kesekian pula menandaskan cerita sang surya

purnama yang saat silam menghilang kembali pergi
musim pun senantiasa berganti
aku  rasa mungkin sudah sampailah saatnya : seeorang mulai beranjak menjauh dari hati
menyisakan kepingan teka teki
»»  Baca Selengkapnya...

Sabtu, 22 September 2012

Sakit

Terkadang sebuah penyakit dan rasa sakit diperlukan untuk mengenyahkan kesombongan diri, terkadang sebuah luka diperlukan untuk bisa lebih dari sekedar berkaca, memahami apa saja yang layak untuk disyukuri dari sebuah kemalangan. Terkadang kegilaan juga diperlukan agar bisa dapat terus waras dalam kehidupan di jaman edan ini.

Seorang dokter saja bisa salah mendiagnosa sebuah penyakit walaupun berbekal pengetahuan dan referensi yang memadai, apatah pula seorang manusia pasti sering tergelincir dalam jebakan-jebakan ilusi di dalam hidupnya.

Anugerah yang telah dimiliki acapkali diabaikan dan dilalaikan ketika terbentur pada suatu peristiwa yang menguras segenap emosi jiwa, aku hidup hanya dari persangkaan yang tidak benar pada diriku sendiri, bersandar pada bayang semu jejak langkah rancu, tertatih pada komponen hati yang ringkih, mengaduh pada setiap cekokan obat pahit yang seharusnya menjadikanku kuat, berteriak sengal dan merasa direngkuh sepi di tengah keramaian.
»»  Baca Selengkapnya...