Sabtu, 13 Maret 2010

Sepi




Kutatap nanar sudut demi sudut
Tak banyak yang berubah
Belum satu mimpi pun terwujud
Tak serupa gelar zuhud

Setidaknya telah memilih
Tak usah pikirkan seribu dalih
Biar sepi
Biar pergi

:kembali hening sepi


negeri timur jauh
ruang rapat
10 maret 2010
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 10 Maret 2010

Selamat Tinggal

(Alm) Chairil Anwar

Aku berkaca
ini muka penuh luka
Siapa Punya?

Kudengar seru menderu
- dalam hatiku?-
Apa hanya angin lalu?

Lagu lain pula
Menggelepar tengah malam buta

Ah…!!

Segala menebal, segala mengental
Segala tak kukenal

Selamat tinggal…!!


12 Juli 1943
»»  Baca Selengkapnya...

Senin, 01 Maret 2010

nyenyak







Gemericik sungai
Riuh rendah seruan jangkrik malam
Senandung katak ramai
Malam semakin temaram

Langit yang terjungkit
Semerbak bau hangit
Tiada suara lain
Hentakan gapleh di atas kain

Periuk belanga penuh sesak
Kasbi rebus telah masak

Resah
Gelisah
Marah
Jengah
Menyerah

Tak kuasa bergerak
Tinggal gula secupak

Masih di jalan setapak
Tergeletak nyenyak tak bergerak


: Untuk pengabdi lagu para pengabdi
Di puncak gunung di tengah tengah samudera
Di dalam rimba di kebingungan desa dan kota
Thanks to bang iwan fals & bang jenggot..


Sahuwai, 16 Februari 2010
Negeri Timur Jauh
Kepala Air Ariate, menjelang isya di tenda darurat
»»  Baca Selengkapnya...

TAK SEPADAN





(Alm. Chairil Anwar)





Aku kira :
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk –sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
tak satu juga pintu terbuka

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka

Februari 1943
»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 22 Desember 2009

Ibu




seantero jagat memuja mu...
tak terhitung berapa banyak peluh dan darah yang telah kau curahkan....
tak terperi besarnya derita yang telah kau jalani..
tak terbilang semua jasamu...
mampukah membalas??



Negeri Timur jauh
»»  Baca Selengkapnya...

Kamis, 17 Desember 2009

Surat Cinta






Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikimpoikan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain…
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa



WS. Rendra
»»  Baca Selengkapnya...

Selasa, 08 Desember 2009

Mantera





Ini Mantera jiwa
kulafalkan saat gelap gulita meraja
bersenandung suara jangkrik membahana
saat jiwa terasa hampa

Ini mantera bukan sembarang mantera
kuhimpun dengan segenap jiwa
ditengah hiruk pikuk semesta


Timur Jauh, negeri gugusan pulau
07 Desember 2009
»»  Baca Selengkapnya...